Monday, January 19, 2015
HATIKU, HATIMU, MILIK KITA…
Brian Wirasena. Seorang pria berumur matang yang tak sekalipun terlihat menggandeng seorang perempuan—bagaimana mungkin bisa, sementara dia begitu disibukkan dengan berbagai urusan pekerjaan yang tak ada habis-habisnya. Padahal, walau dipandang dari sudut manapun, siapa sih gadis yang bisa menolak pesonanya? Tampan, kaya, sukses? Siapa yang tak mau?
“Siang Pak, ada tamu ingin bertemu dengan Bapak…”
Brian mengeryit bingung. Sepertinya dia tak ada janji dengan seseorang hari ini selain meeting. Dan—ini sudah after office hours, siapa pula yang berani mengacaukan jam pulang kerjanya? “Siapa?”
Celline—sekretaris Brian yang cantik dan fashionable. Free dan cinta mati dengan Brian—dan tentu saja diacuhkannya, kalau diterima bukankah Brian tak mungkin tak menggandeng perempuan di berbagai pertemuan? “Receptionis bilang sih namanya Abel, Pak…” Celline terdengar seperti tak rela mengucapkan nama itu, dan dari ujung telepon Celline pun mendengar reaksi Brian terlalu terkejut. “Bapak mau bertemu dengannya—atau…”
“Oke, lima menit lagi saya turun… Thank’s Cel…” Brian menutup telepon. Gusar.
Baru beberapa menit lalu dia menghubungi orang rumah untuk mengabarkan bahwa dia akan pulang on time, dan sekarang sepertinya dia akan kembali pulang terlambat. Lagipula kenapa Brian harus repot-repot untuk mengabarkan kepulangannya? Memangnya ada siapa dirumah? Kedua orang tuanya sudah meninggal, istri tak punya, dan kekasih? Brian menggeleng kesal. Setahun yang lalu Annabel atau Abel adalah kekasihnya. Tapi sekarang—Brian menggeleng, dia bahkan masih ingat bagaimana setahun lalu gadis itu meninggalkannya untuk mengejar pria lain yang kaya raya, yang katanya lebih bisa membahagiakannya. Untuk apa dia datang? Brian penasaran hingga tak sadar langkahnya telah terhenti di hadapan seorang gadis—cantik, modis, berkelas, dan—seksi? Ternyata pesona Abel masih saja menghipnotisnya. Walaupun kata seksi lebih bisa dikatakan “berisi”.
“Hey, Beib…” Abel menghampiri Brian dan berusaha memeluk pria itu. Dan dengan cepat Brian menghindar. Lalu ketika Abel mengulurkan jemarinya yang ramping ke wajah pria di hadapannya hampir Brian terlena—matanya langsung terpejam, tapi entah malaikat dari mana yang berhasil menyadarkannya—Brian menepis tangan itu. Tak memberinya kesempatan untuk kembali membuainya dengan rayuan-rayuan yang dapat membuat Brian luluh. Lagi. “Aku kembali…”
“Untuk apa?”
“Jelas untuk kamu… Memang ada yang lain?” Abel tersenyum menggoda. Saat melihat Brian diam, Abel berusaha memegang wajahnya lagi.
Dan Brian langsung waspada. “Ini kantor…” Brian menarik gadis itu kearah sudut yang lebih tersembunyi. Untung saja kantor agak sepi hari ini.
“Apa kita harus pindah ke tempat lebih privacy?” Abel mengerling genit. “Apartement?”
“Cukup! Apa mau kamu?”
Abel langsung menjelaskan apa tujuannya mendatangi Brian di sore yang tenang dan mendadak kacau ini. Gadis itu menyesal meninggalkan Brian dan ingin kembali menjalin hubungan pria itu. Dia juga bilang bahwa ternyata kekasihnya yang lebih bisa membahagiakannya dibanding Brian itu tak lebih dari seorang pria pengecut yang hanya mau tubuhnya saja. Jadi dengan kata lain—Abel sudah tak “virgin” lagi? Tak bisa dipungkiri, walaupun sering dibilang udik, kampungan, atau apapun Brian memang sangat menjaga harga dirinya—dengan “tak tidur” dengan sembarang wanita misalnya. Walaupun Abel, gadis itu sangat menggoda untuk disentuh, tapi Brian tak berani melakukannya… Hanya kecupan kecil atau ciuman singkat yang seketika dia hentikan kalau sudah mulai panas—artinya Brian bisa mengendalikan nafsu kan? Dan untuk gadis sebebas Abel, hal itu terlalu membuatnya menderita. Pernah suatu kali Abel berusaha menggodanya, menciumnya habis-habisan berharap bahwa Brian akan keterusan dan melakukan apapun yang seharusnya dia lakukan yang tak bisa ditahannya lagi—tapi toh Brian sekali lagi—sangat mampu mengendalikan gairahnya. Saat itu Brian yang cinta mati dengan Abel bertanya takut-takut pada gadis itu, apakah Abel masih virgin? Apakah gadis itu benar-benar belum pernah berbuat kelewat batas? Dan Abel—tentu saja gadis selicik dia langsung mengatakan bahwa Brian terlalu berprasangka buruk padanya. “Tentu saja aku masih suci! Kamu pikir aku apa?” Ucapnya marah ketika itu, dan Brian kembali lagi bertekuk lutut padanya. Tapi sekarang?
Brian tiba dirumah sangat terlambat. Lebih terlambat daripada hari-hari biasanya ketika dia disibukkan dengan urusan kantor. Dan selalu saja menemukan rumah dalam keadaan sepi… Kadang ini membuatnya berpikir—betapa hidup seorang diri di dunia ini, walaupun dengan materi berlimpah, dan kekuasaan yang tak terbatas, tetap saja hidup sendiri itu sangat tak berarti. Brian ingat, di setiap acara reuni yang diadakan rekan-rekan SMP, SMA, dan kampusnya—dia selalu menjadi bulan-bulanan. “Ganteng, sukses, kalau hidup sendiri mah buat apa?” Benar juga. Brian mulai bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja setiap hari. Dia ingin kehadiran orang lain dalam hidupnya, dia ingin hitam dan kelabu di kehidupannya menjadi penuh warna—dan Wulan lah yang selalu muncul dalam pikirannya akhir-akhir ini. Tapi kenapa harus Wulan?
“Mas, tadi katanya mau pulang cepet?” Bi Parti—pembantu rumah tangga yang hampir dianggapnya ibu sendiri, karena dia sudah lama ikut keluarganya—sejak kedua orang tuanya masih ada. Wanita itu tak segan-segan menegurnya ketika berbuat salah, dan mengomentari keterlambatannya. “Makan malamnya biar bibi beresin aja kalau gitu…” Ujar bibi terlihat agak sedih.
Brian ingin mencegah. Tapi memang benar—dia sudah kenyang makan malam bersama Abel. Memang dia sudah tak ingin menjalin hubungan lagi dengan gadis itu, tapi apa salahnya berteman? Dan Abel pun sepertinya juga akan menerima tawaran apapun yang Brian berikan. “Wulan?” Biasanya gadis itu yang menyiapkan makan untuknya.
Bi Parti berbalik. “Dia ke dokter, Adhit demam…”
Brian terperangah. Dia melihat jam tangan di pergelangannya dan tak jadi melepas sepatu. “Selarut ini?”
Wanita paruh baya yang tak pernah mau menikah itu hanya mengedikkan bahu. Tapi dari matanya dia terlihat panik juga. “Kalau bibi tahu Mas Brian nggak jadi pulang, bibi nggak akan minta Wulan masak…” Bibi terlihat kecewa.
Tololllll! Hanya itu yang bisa Brian ucapkan dalam hati—memaki perbuatannya sendiri. Bi Parti, saking menganggapnya anak sendiri, sampai-sampai dia paham kalau masakan Wulan sangat disukainya, hingga dia akan selalu meminta Wulan untuk memasakkan makan pagi dan makan malam untuk Brian. Dan gara-gara Abel… Brian merasa bersalah dan—“Dia ke rumah sakit mana?”
Setelah bibi mengatakan nama sebuah rumah sakit, Brian langsung saja menghambur keluar dan secepat kilat menjalankan mobilnya. Wulan—gadis itu, atau—wanita itu, karena dia jelas-jelas punya anak, jadi sebutan apa yang pantas? Walaupun Brian tak tahu dan tak pernah tahu, siapa ayahnya, apa pekerjaannya, dan mengapa Wulan mengasuhnya sendiri. Brian hanya menyukai Wulan, dan itu sangat disesalinya karena tentu saja perasaan itu tak akan pernah berbalas, walaupun—ya, Wulan memang sangat baik dan perhatian padanya. Jika saja Wulan masih sendiri, bukankah itu sangat baik? Tapi kenyataan mengatakan tidak. Brian bisa apa?
Brian bertanya ke pusat informasi dan menanyakan apakah ada pasien bernama Adhitya yang datang ke rumah sakit, jawaban yang melegakan sekaligus mengejutkan. Memang benar ada—tapi dokter yang memeriksa pasien pun sudah pulang, besar kemungkinan kalau si pasien juga sudah pulang. Tapi tentu saja Brian mengecek keberadaan Wulan dimana-mana, meski tak ditemukan dimanapun.
Wulan tak punya ponsel. Ponsel lamanya hilang—dan dia bilang bahwa dia tak memerlukan benda itu. Satu-satunya keluarganya di dunia ini adalah Bi Parti, dan sekarang dia tinggal bersamanya—jadi untuk apa? Hingga keinginan untuk membelikan ponselpun sirna begitu saja dalam diri Brian—apakah Wulan pernah merasa ingin menghubunginya? Pikiran tentang berselingkuh dengan Wulan pun datang begitu saja tanpa diminta. Persetan dengan suami gadis itu.
“Bi, Wulan udah sampai?”
Bibi menggeleng biarpun Brian tak mampu melihatnya di telepon. “Belum Mas, mungkin sebentar lagi… Mas Brian nggak ketemu?”
Tanpa sadar pegangannya di ponsel mengeras. Brian takut. Brian khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan Wulan diluar sana. Biar bagaimanapun—Wulan adalah seorang gadis, dan terlepas dari itu, Wulan adalah seorang gadis yang cantik. Dan Brian—omaigat! Sepertinya itulah alasannya mengapa Brian akhir-akhir ini selalu mengabarkan orang rumah kalau dia pulang terlambat atau tepat waktu. Brian berharap bahwa Wulan akan menantikan kedatangannya—setiap hari, dan Brian pun selalu tak sabar untuk segera bertemu dengan gadis itu lagi dan lagi. Kenapa Tuhan—kenapa dia tak bisa memiliki gadis itu?
“Mas Brian?”
Suara lembut nan menenangkan. Membuat debaran jantungnya menghentak-hentak karena walapun sering bercakap namun Brian tak bisa terbiasa. Selalu saja ada perasaan aneh tiap gadis itu menyebut namanya… Brian menoleh, mendapati gadis itu lega—mungkin karena dia memanggil orang yang benar. “Wulan? Kamu darimana saja sih? Saya nyariin kamu dari tadi? Bisa nggak kamu ngabarin saya kalau pergi kemanapun?”
Wulan yang lelah—mendengar omelan yang berentet otomatis kesal. Walaupun sedetik ada perasaan hangat menjalarinya—Brian mencarinya? Tapi yang terlontar tak disadarinya. “Kenapa saya harus mengabarkan kemanapun saya pergi? Wali saya kan Budhe Parti? Dan mengapa Mas Brian marah-marah sama saya?”
“Karena saya majikan kamu! Kamu lupa? Kamu tinggal dirumah saya, kalau terjadi apa-apa sama kamu siapa saya akan ikutan repot…” Brian. Apa yang dia bicarakan? Dia sendiri sama tak menyadarinya sampai saat melihat gadis di hadapannya meneteskan air mata—sesal selalu datang terlambat.
Jadi? Pria seperti ini yang kamu cintai Wulan, hah? Wulan mengejek dirinya sendiri dalam hati. Perasaan hangat itu memudar. Pria yang diduga Wulan lemah lembut dan perhatian terhadap para pengurus rumah dari mulai pembantu, supir, tukang kebun, satpam, ternyata hanya sebatas acting? Kenapa tak jadi aktor saja kalau begitu? Wulan yakin Brian akan dapat piala citra. Actingnya selama ini luar biasa. Baiknya hanya pura-pura. Dan saat diluar sifat aslinya kelihatan. “Maaf… Saya pikir kalau urusan rumah selesai saya bisa ijin untuk membawa Adhit ke dokter… Mas Brian nggak perlu memikirkan kemungkinan itu, merepotkan orang adalah hal yang terakhir saya pikirkan, dan saya pasti akan memilih Budhe Parti—bukan Mas Brian…” Wulan sukses membuat Brian mati kutu, lalu meninggalkan pria itu begitu saja di lobby rumah sakit. Dia sudah siap dipecat saat menginjakkan kaki dirumah.
Dan Brian—dia hanya bisa mematung di tempatnya berdiri.
Keesokan harinya demam Adhit sudah mulai menurun, walaupun frekuensi batuk pileknya tak ada tanda-tanda berkurang. Setidaknya suhu tubuhnya mulai normal. Jadi Wulan bisa melanjutkan pekerjaannya walaupun harus sering-sering menengok kondisi bayinya. Saat Adhit sakit begini Wulan merasa sangat khawatir, dia sudah menganggap bayi kecil itu putranya sendiri. Wulan sangat menyayanginya, walaupun dia masih berharap dapat menemukan wanita cantik yang membuang bayi itu ke dekapannya beberapa bulan lalu. Bagaimanapun, seorang bayi dalam asuhan ibunya lebih baik dibanding Wulan yang tak pernah merasakan yang namanya melahirkan. Bagaimana harus melahirkan? Pacaran saja tak pernah—apalagi menikah. Wulan ingat, saat menjadi seorang koki dulu ada seorang pria yang menyukainya, dan Wulan pun sepertinya mulai tertarik dengan pria itu. Tapi ketika tahu ternyata pria itu meninggalkan istrinya di kampung, Wulan menggeleng—kenangan buruk yang tak perlu diingat lagi. Hampir saja dia merebut suami orang. Dan dibanding melakukan itu, Wulan lebih memilih tak menikah seumur hidupnya seperti yang dilakukan Budhe Parti.
“Semalam Mas Brian nyariin kamu…” Bi Parti tersenyum tulus. “Dia kayaknya khawatir banget sama kamu Lan…”
Wulan menghentikan aktivitasnya. Tapi seolah puas telah menyelesaikan pekerjaannya sepagi ini—semangkuk bubur ayam, untuk sarapan—Brian? Brian belum memecatnya berarti dia masih diakui dirumah ini. Atau mungkin Brian sedang berniat untuk memotong gajinya? Tapi pria itu belum ada tanda-tanda muncul di ruang makan. “Dia nggak mau repot karena Wulan kenapa-kenapa…”
Bi Parti tersenyum. “Sepertinya dia perhatian sama kamu…”
“Budhe jangan begitu saja percaya sama dia. Dia pandai beracting… Dia cuma pura-pura baik di hadapan kita…”
Bi Parti menggeleng. “Budhe kenal dia sejak orang tuanya masih ada. Mas Brian orang yang lembut—dan semenjak ada kamu dia lebih sering makan dirumah. Dulu, jangankan makan malam, makan pagi aja nggak pernah disentuh…” Wulan baru mengetahui fakta ini dan itu membuatnya miris. Apa yang dikatakan pria itu semalam sangatlah menyakitinya. “Tapi kemana Mas Brian, tumben belum turun. Apa jangan-jangan dia sakit… Coba kamu naik Lan, bangunin dia, dia pulang larut karena mencarimu…”
Wulan hendak membantah. Tapi diurungkannya niat itu, dia tidak mau berdebat dengan Budhe Parti. Segera Wulan naik ke lantai dua, ragu tapi diberanikannya mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Sekali lagi diketuknya pintu kamar Brian. Mungkin sudah berangkat. Dan tiba-tiba bunyi kunci diputar, muncul sosok—tak seperti biasanya di jam ini, sosok pria bertubuh lemah, berwajah pucat, dan rambut berantakan yang berdiri di hadapannya bersandar pada daun pintu. Andai saja, pria itu dalam keadaan sehat—pose itu bisa dikatakan seksi versi Wulan. Mendadak dia lupa akan kemarahannya… “Mas Brian sakit?” Wulan yang begitu panik reflek langsung menyentuh kening Brian, membuat pria itu terkejut dan memejamkan matanya, menikmati sentuhan ringan Wulan. Seandainya gadis ini tahu apa yang dipikirkannya sekarang… “Saya panggil dokter ya…” Wulan hendak turun tapi dicegah Brian dengan sisa tenaganya.
“Cuma masuk angin…” Pegangannya masih di pergelangan tangan Wulan. Dan Wulan merasa tak nyaman dengan posisi ini. Apa yang akan orang pikirkan kalau melihat mereka? “Adhit?”
Dalam kondisi sekacau ini dia masih ingat orang lain? “Membaik… Dan demamnya pindah ke Mas Brian…” Wulan berusaha menghibur. Biarpun semalam pria ini mengesalkan, Brian tetap majikannya. Tak ada untungnya berperang dengan pria ini, kecuali rugi karena harus dipecat dan angkat kaki dari rumah ini—siapa pula pemilik rumah yang mau memperkerjakan seorang gadis dengan seorang bayi yang masih harus diperhatikannya. Terkadang saat melakukan pekerjaan rumah gadis itu harus menggendong bayinya kesana kemari, kerepotan menenangkan Adhit jika dia lama membuatkan susu, bingung dengan apa yang harus dilakukannya ketika Adhit demam. Lagipula—melihat Brian lemah seperti sekarang, hati Wulan terasa nyeri. Wulan sungguh mengkhawatirkan pria itu.
Brian mengangkat alis dan tersenyum. “Ada apa?”
Wulan tersadar dari lamunan. Lalu tersenyum kikuk. “Ehm, sarapannya mau dibawa kesini?” Brian menggeleng. “Mas Brian mau makan di bawah?” Dia menggeleng lagi. “Lalu?”
“Maaf… Semalam saya—mungkin saya terlalu panik karena salah seorang yang tinggal dirumah saya masih diluar rumah di jam selarut itu…” Ujar Brian tulus.
Wulan hanya diam mendengarkan. “Saya mengerti… Kalau begitu saya permisi…”
“Stay here…” Ucapnya pelan. “With me…”
Omaigatttt! Seandainya ada cermin di hadapan Wulan—apakah wajahnya sudah serupa kepiting rebus? Memerah hanya karena majikannya mengatakan hal-hal yang mungkin tak disadari efeknya terhadap Wulan. Bisa nggak sih majikannya ini bersikap profesional. Dan akhirnya setelah meyakinkan panjang lebar bahwa orang sakit lebih membutuhkan makanan dibanding yang sehat, akhirnya Brian menuruti apa kata Wulan, membiarkan gadis itu membawa makanan ke kamarnya. Brian tertegun—satu-satunya orang yang berani memaksanya makan adalah almarhum mama. Dan sekarang—wulan?
Wulan duduk dengan tegang. Kedua jemarinya menyentuh keyboard sementara wajahnya terfokus pada layar monitor. Brian memintanya menuliskan email, setelah sebelumnya Wulan berhasil memaksa pria itu menyuapkan beberapa sendok bubur ke mulutnya. Setidaknya dia mau makan… Dan pria itu sekarang berdiri begitu dekatnya sambil mendikte apa yang harus Wulan tulis, sesekali pria itu menunduk untuk merevisi pekerjaan Wulan dan itu membuat jantung gadis itu menghentak di permukaan. Betapa pria ini mampu membuatnya bereaksi berlebihan hanya dengan berdekatan seperti sekarang. Walaupun Wulan berpikir—Hello… Siapa elo??? Naksir sama majikan… Mimpi!
“Mengapa kalian berpisah?” Jemari Wulan menggantung di udara—ini bukan kalimat yang harus ditulisnya tentu saja. Apa yang ditanyakan Brian padanya? “Suami kamu—apa dia melakukan sesuatu yang buruk?” Wulan mematung lalu tersenyum. “Ada yang salah?”
Gadis itu menggeleng. Lalu mengangguk. “Mas Brian…”
Brian berpindah ke hadapan gadis itu. Berdiri lalu membungkuk—makin dekat posisi wajah mereka berdua. “Saya?” Brian mengerutkan kening. “Maksud kamu?”
Wulan berdehem kikuk membuat pria itu menyadari posisi mereka. “Saya nggak pernah menikah…” Brian langsung berdiri tegak. Benar juga, Wulan tak mengenakan cincin kawin. Jadi gadis itu tak sepolos dugaannya—dan Brian, dia jelas tak pernah menyukai gadis macam itu, yang tak bisa menjaga kehormatannya. Tapi Brian terlanjur jatuh cinta dengan Wulan… Wulan yang menyadari perubahan ekpresi Brian langsung tersadar. “Maksud saya…”
“Hey… Beib…” Seseorang menyerobot masuk tanpa permisi. Dan langsung membungkam Wulan, menghentikan maksud gadis itu untuk memberi penjelasan. Tapi ada yang aneh—perempuan itu… Seperti pernah dilihatnya… “Are you okey?” Abel langsung menghampiri Brian dan meletakkan punggung tangannya di kening Brian. Tadi pagi Abel mengirimkan message bahwa dia akan mengajak Brian makan siang diluar, dan Brian menjawab bahwa dia tak enak badan hari ini. Tapi siapa sangka Abel masih mengingat jalan kerumahnya. “Why you look so sad? Kita ke dokter…” Abel tak tahu bahwa saat ini pikiran Brian sedang penuh dengan Wulan, Wulannya yang tak sepolos dugaannya. Wulan yang ternyata makin mematahkan hatinya selain alasan bahwa dia telah mempunyai anak—tanpa suami?
“Kamu boleh keluar Lan…”
Suara datar namun menyakitkan untuk didengar Wulan. Pengusiran secaran halus. Detik sebelumnya baik, dan detik selanjutnya ketus, seperti orang asing baginya. Tapi mau gimana lagi? Wulan harus sadar dengan posisinya dirumah ini. Pembantu! Wulan mengangguk sebelum mengalihkan tatapan ke gadis yang menggelayut lengan Brian—menatapnya muak dan jijik. Tapi dimana dia melihat perempuan itu sebelumnya? Wulan seperti familiar… “Permisi…” Pamitnya dengan kepala penuh tanda tanya. Sampai di dapurpun Wulan masih terus memikirkan siapa perempuan itu sebenarnya…
“Mas Brian mana Lan?”
Wulan menggeleng. Tak merasa perlu memberikan penjelasan bahwa pria itu sakit atau semacamnya. “Di kamar sama cewek…” Jawabnya ketus, membuat Bi Parti bertanya-tanya. Wulan sedang cemburu—tapi pada siapa? “Dimana Wulan pernah ketemu sama dia?” Gumamnya lebih pada diri sendiri.
“Siapa?”
“Pacar Mas Brian itu… Wulan yakin pernah ketemu sama dia…”
Bibi mengeryit. “Orang seganteng dan sekaya Mas Brian itu banyak yang mau Lan, barangkali mirip artis…”
Mungkin juga Budhenya benar. Tapi Wulan masih berusaha mengingat-ingat dan mengaduk memorinya. Ah sudahlah, lebih baik Wulan mengurusi Adhit saja, jangan-jangan dia sudah bangun dan Wulan ingat belum memberinya susu pagi ini. Adhit harus meminum obatnya.
“Morning Beib…” Wulan mendengar suara perempuan itu lagi saat sebelumnya dia melihat sebuah sedan metalik mengklakson untuk dibukakan pagar lalu berhenti tepat di depan pintu masuk utama rumah. Dan si satpam sepertinya sudah sangat mengenal perempuan itu. Selama ini Wulan pikir Brian tak punya seorang kekasih—dia terlalu berharap. Tapi ternyata fakta berkata lain, mungkin selama ini kekasih Brian tinggal di luar negeri, pikirnya pahit. Tentu saja Wulan dan kekasih Brian itu bagai langit dan bumi. Mana bisa Brian menyukai perempuan gembel berpendidikan rendah sepertinya. Lulusan SMA yang kemudian mengikuti kursus memasak…
Brian yang saat itu terburu-buru memakai dasi sambil berjalan ke pintu depan ternganga melihat pemandangan di rumahnya yang berbeda pagi ini. Seorang perempuan yang cantik dan seksi sudah menunggunya di teras rumah—dan seorang lain—Wulan, dengan kesederhanaannya sedang membantu tukang kebun merawat bunga-bunga peninggalan almarhumah mamanya. Pemandangan yang sangat kontras. Brian mendadak teringat bagaimana mamanya sangat mencintai kebun mawar di rumah mereka yang saat ini mekar sempurna—betapa dia merindukan momen saat mamanya dengan telaten menyirami bunga-bunga itu. Dan hilanglah sudah kekecewaan Brian terhadap gadis itu—masa lalu adalah masa lalu, Brian ingin berhubungan Wulan untuk masa depan, bukan masa lalu… Biarlah semua itu jadi pelajaran yang berharga untuk Wulan, dan Brian—dia hanya harus menerima apapun keadaan Wulan. Dia menginginkan gadis itu. Dia mencintai Wulan. Dan dia tak bersuami—so, why not? Itu akan lebih melancarkan maksudnya untuk memiliki Wulan. “Abel?”
“Surpriseeee!!!” Pekiknya lalu menghambur untuk memeluk Brian, dan tentu saja pria itu menahannya. Sekilas dia melihat kearah Wulan dan menemukan gadis itu mencuri pandang kearah mereka—haruskah Brian berpura-pura mesra dengan Abel? Oh No! itu nggak akan menjamin—bagaimana kalau ternyata Brian sudah terjebak dalam sebuah hubungan dengan Abel dan ternyata Wulan tetap tak merespon kedekatan mereka? Brian putus asa. Abel memberengut… “Kamu kenapa sih Bri?”
“We just friend, Bel… Remember?"
“Yeah, I know…”
“Kamu ngapain kesini? Aku sedang terburu-buru…” Ucap Brian gusar—sekali lagi melirik kearah Wulan. Gadis itu sudah tak ada disana.
“Kamu kan lagi sakit… Mau bareng? Kantor kita searah?”
Brian mematung. Kalau dia ikut Abel artinya sore nanti dia harus mencari tumpangan, lalu Abel akan mendatanginya dan menawarkan apa yang dia butuhkan, lalu setelahnya dia akan mengajaknya makan malam diluar, dan setelah itu dia akan menemukan rumahnya senyap karena semua orang sudah tertidur. Artinya dia nggak akan menemukan Wulan. “No, thank’s…”
Brian baru saja tiba di kantornya saat—mendadak ponselnya berdering. Dari rumah, gumamnya buru-buru dan membalas sapaan Celline sambil lalu, membuat gadis itu kesal. “Ehm, Mas Brian?” Seumur hidup selama gadis itu bekerja untuknya, ini adalah pertama kalinya Wulan menghubunginya yang artinya bahwa mungkin hal sangat mendesak yang harus gadis itu sampaikan. Mungkinkah—mungkinkah Wulan cemburu pada Abel? Ingatan tentang itu membuat Brian menyeringai senang. Setidaknya walaupun Brian tak berusaha berpura-pura untuk dekat dengan Abel, Wulan tetap cemburu padanya.
“Ya, Lan?” Brian kelewat antusias.
Hening sesaat seperti ada keraguan atau penyesalan. Atau kekesalan??? “Mbak Abel… Ehm, dia… Maaf nih Mas, apa dia pacar Mas Brian?”
Yes! Jadi benar! Wulan cemburu padanya. Kedua bola mata Brian seketika berpendar-pendar—senang. “Kalau iya kenapa kalau nggak kenapa?”
Diberi pilihan pertanyaan tentu saja membuat Wulan makin ragu—artinya dia harus menjawab keduanya. “Itu… Sebenarnya saya bingung mulai dari mana…” Brian menunggu dengan berdebar-debar. “Mungkinkah… Mungkinkah… Mas Brian janji nggak akan marah sama saya?” Suara gadis di seberang sana makin mengecil.
“Kamu mau ngomong apa sebenarnya Lan?” Brian mulai curiga. Perasaannya tak enak.
Suara tarikan nafas yang bisa didengar oleh Brian. “Mungkinkah… Adhit… Anak Mas Brian?”
“Whattttt???” Kenapa pagi-pagi Wulan membuat kekacauan. “Maksud kamu apa??? Kamu menuduh saya mempunyai seorang anak yang—itu kan anak kamu, kamu yang berbuat, mengapa kamu melimpahkah kesalahan pada saya???” Brian yang sudah terpancing emosi menjadi meluap-luap. Benar-benar Wulan! Gadis itu… Nafas Brian naik turun. “Kita bertemu tiga puluh menit, pastikan kamu tidak terlambat!” Desis Brian, dia menyebutkan salah satu restoran yang buka 24 jam yang biasanya dia datangi ketika sarapan pagi—sebelum ada Wulan.
“Kita langsung ke pokok masalah…” Ujar Brian dengan pandangan mengancam. Ketika Brian sampai, Wulan sudah ada di sana dengan gestur tak nyaman, kedua tangannya dipangku, dan dia sama sekali tak menyentuh minumannya. “Apa maksud kamu???”
Wulan seolah ragu—apakah dia sudah terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan? Tapi itu adalah satu-satunya jawaban yang paling tepat. “Saya belum menikah…” Hamil diluar nikah—Brian ingin sekali memotongnya dengan kalimat itu. “Nggak mungkin kan orang yang nggak pernah menikah tapi bisa punya anak?” Itu hanya terjadi pada Siti Maryam—tentu saja.
Brian masih menunggu. “Maksud kamu?”
“Adhit bukan putra saya…” Kalau saja Wulan tak menuduhnya sebagai seorang brengsek yang meninggalkan darah dagingnya sendiri, pasti hal itu akan membuatnya lega sekaligus kegirangan. Akhirnya dia bisa memiliki Wulan. Tapi ini… “Saya hanya gadis beruntung yang mendapatkan malaikat kecil malang secara tak terduga. Seorang perempuan cantik meninggalkannya pada saya tanpa memberikan kesempatan pada saya untuk menolak atau mempertanyakan tindakannya yang bodoh.”
“Tunggu… Tunggu… Dari tuduhan kamu sebelumnya, mengenai kemungkinan kedekatan saya dengan Abel—jadi maksud kamu… Abel… Dia…”
Wulan mengangguk. Sejak kemarin saat dia bertemu dengan Abel, Wulan berpikir keras dimana dia pernah melihat gadis itu sebelumnya, tak mungkin karena dia seorang artis, lalu tadi pagi saat tiba-tiba sebuah mobil mendekat kearahnya dan berhenti di depan teras. Dia yakin, dia belum lupa dengan mobil itu—sebuah mobil warna metalik yang tak akan mungkin dilupakannya. “Saya berpikir bahwa hal-hal seperti itu hanya terjadi di televisi, tapi saya masih ingat, Mbak Abel mengangsurkan bayi itu ke pelukan saya dan pergi begitu saja.”
“Dan kamu menuduh saya ayah anak itu?” Wulan menunduk. Siapa lagi yang pantas dijuluki ayah untuk Adhit, biarpun kalau dilihat-lihat lagi, bayi itu tak ada mirip-miripnya dengan Brian. Kemungkinan besar Wulan sudah salah menuduh Brian.
Hari ini Brian sukses membatalkan sebagian jadwal meetingnya dan mengatakan pada Celline bahwa dia baru bisa kembali after lunch. Setelah mendengar tuduhan tak beralasan dari Wulan, dan kemudian mendengar penjelasan dari gadis itu Brian jadi tidak bisa berpikir jernih lagi. Dia harus menyelesaikan ini sesegera mungkin—melepaskan beban berat yang harus ditanggung Wulan gara-gara Abel yang tak bertanggung jawab. Jadi Adhit anaknya Abel? Dan dia membuang anak itu setelah melahirkannya??? Brian tak mengerti jalan yang dipilih Abel dulu. Meninggalkannya begitu saja untuk berpindah ke pelukan Bob—kenalannya saat mereka kuliah di Bandung dan mengatakan bahwa Brian jelas tak akan bisa membahagiakannya. Bahagia macam apa yang Abel butuhkan? Dan sekarang—gadis itu mencoba meraih hatinya kembali setelah dicampakkan Bob? Setelah Bob menghamili gadis itu lalu meninggalkannya tentu saja… Semua kesimpulan itu begitu saja terpikir oleh Brian.
Akhirnya Brian memutuskan untuk mengantarkan Wulan pulang dan meminta gadis itu membereskan semua pakaian Adhit karena Brian akan meminta Abel mengambil kembali tanggung jawab terhadap Adhit. Dia sudah hidup nyaman selama ini—sedangkan Wulan? Gadis itu tak hanya menjadikan dirinya tertawaan orang dengan memiliki anak diluar nikah, dia juga sudah membuat mimpi Wulan menguap begitu saja… Dan Brian—dia marah, dia tak rela, Wulan, gadis yang dicintainya menderita lebih lama lagi. Dia bahkan sudah menganggap Wulan gadis murahan. Selama dalam perjalanan Brian tak henti-hentinya menarik nafas lega bercampur kesal. Lega karena Wulan gadis bebas yang bisa dimilikinya, dan kesal terhadap sikap Abel yang ternyata diluar dugaannya.
“Maaf ya, Mas Brian jadi nggak bisa kerja…” Gadis itu merasa tak enak karena melibatkan majikannya dalam urusannya yang ternyata tidak ada sangkut pautnya dengan Adhit. Kecurigaannya tak beralasan.
Brian yang kaget, untuk pertama kalinya Wulan berbicara setelah sejak di mobil gadis itu mengunci mulutnya rapat. Brian menggeleng. “Kamu harus mendapat keadilan Lan. Saya akan menghubungi Abel agar gadis itu cepat mengambil Adhit…”
Pemikiran tentang betapa teganya Abel membuang Adhit saat itu, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Abel akan kembali membuangnya membuat Wulan ketakutan. Biar bagaimanapun Wulan sudah menyayangi Adhit seperti anaknya sendiri. “Tapi Mas… Adhit… Apa Mbak Abel nggak akan melakukannya lagi?”
Brian masih menatap lurus. Tapi sesekali dia melirik ke sisi wajah gadis itu. “Saya akan memastikan bahwa Abel tak punya pilihan selain membesarkannya…”
“Tapi… Bagaimana caranya?” Brian tersenyum, tahu betapa khawatirnya Wulan terhadap Adhit. Brian senang Wulan memiliki kelembutan sebagai seorang wanita. Kalau anak orang saja dia perlakukan sebegitu sayangnya, apalagi anak mereka nanti… Ups! Brian mengerem mendadak membuat Wulan menjerit ketakutan. Gara-gara melamun Brian hampir saja menyerobot lampu merah.
“Kamu nggak apa-apa? Maaf ya…” Ujar Brian tulus. Khawatir. Dan tak sadar dia mengelus rambut Wulan, menenangkan gadis itu dan gadis itu membiarkannya. Wulan membiarkannya pemirsaaaa… ini adalah lampu hijau!!!
“Hey Beib…” Abel sampai di rumah Brian tak lama setelah pria itu menghubunginya. Sepertinya Abel memang sudah ada di sekitar perumahan pria itu, atau jangan-jangan Abel mengikutinya? Ah masa bodoh. Yang penting gadis itu sudah ada dihadapannya, dengan senyum palsu yang seperti diukur selebar mana dia harus tersenyum? “Nunggu lama?” Abel sebenarnya ingin menanyakan mengapa pria itu berada di rumah, bukankah tadi dia sudah berangkat ke kantor. Tapi saking exited-nya dengan telepon Brian, maka Abel melupakan pertanyaan itu.
Brian menggeleng. “Duduk…”’ Abel mengeryit. Gadis itu mengharapkan pelukan dari Brian—bukankah pria itu sadar bahwa dia masih menginginkan Abel sehingga gadis itu dipanggil untuk datang? “Setahun lalu saat kamu ninggalin aku, apa yang terjadi?”
Abel mendongak menatap pria yang duduk berseberangan dengannya. Dia merasa seolah sedang dalam sesi wawancara. “Maksud kamu?”
“Kamu hamil dan “pernah” melahirkan?”
“Apa?” Abel terkejut. Bagaimana Brian bisa tahu masalah ini? Saat dia hamil dan Bob mencampakkannya, Abel bingung. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya… Ayahnya meninggal saat dia masih balita—dan ibunya, wanita itu meninggal karena shock saat Abel mengatakan bahwa dirinya hamil dan ayah bayi yang dikandungnya tak mau bertanggung jawab. Abel menyesali kejadian itu, hingga satu keputusan besar diambilnya—jika dia menggugurkan maka dia akan membunuh bayi itu, sama seperti membunuh ibunya walaupun secara tidak langsung. Maka dia berniat melahirkan bayi itu lalu membuangnya—berharap seseorang yang menemukannya akan merawat anaknya dengan baik. “Apa maksud kamu?”
Dan seorang gadis sederhana muncul saat itu juga dari balik pintu dapur. Gadis itu yang kemarin ada di kamar Brian—gadis itu menggendong seorang bayi yang selimutnya… Abel tak mungkin melupakannya. Sebuah selimut biru terang yang dia pesan khusus dan diberi nama Adhitya. Abel memucat. Bagaimana mungkin ada kebetulan seperti ini? Mungkinkah gadis itu yang dia temui dan dia berikan tanggung jawab untuk merawat Adhit? Bagimana bisa? “Kamu…?” Abel sontak berdiri.
“Bayi anda sehat… Beberapa hari lalu dia demam tinggi dan tak mau minum susu. Mungkin dia kangen sama ibunya…” Abel melongo.
“Lelucon macam apa ini?” Sanggah Abel—dia menatap Brian menuntut jawaban.
Brian mendecakkan lidah kesal. “Wulan sudah menjaga anak kamu dengan baik, kamu harusnya berterima kasih. Mengapa kamu menganggap semua ini lelucon?”
“Tapi… Aku…” Abel terbata.
Brian tak sabar. “Apa kita harus melakukan tes DNA?”
Tentu saja Abel bingung. Dia memang ibunya… Takdir macam apa yang ada dihadapannya saat ini? Saat dia melajukan mobilnya kerumah ini, dia berharap akan membawa cinta Brian kembali ke pelukannya—tapi haruskah Brian menendangnya keluar rumah dengan seorang bayi di dekapannya? Abel meneteskan air mata. Membuat Wulan terharu—sedangkan Brian, dia seolah menganggap bahwa segala hal yang berbau Abel hanya sebuah kepura-puraan.
Wulan mendekati Abel, dia memberikan usapan yang menenangkan ke punggung Abel, berharap gadis itu sedikit tenang. Dia mengajak Abel duduk dan bercerita bahwa Adhit adalah anak yang baik, dia lucu dan menggemaskan. Wulan saja yang bukan ibunya bisa jatuh cinta pada anak itu, mengapa Abel yang merasakan betapa sakitnya melahirkan tak bisa mencintainya… Itu mustahil bukan…
“Dia tak menginginkan anak itu lahir…” Abel sesenggukan.
Wulan tersenyum. “Karena dia belum pernah melihat bagaimana tubuh mungil ini tampan dan lucu… Dan sekaligus rapuh… Membutuhkan kedua orang tuanya untuk tumbuh besar…”
Abel sadar. Bahwa dia pun membutuhkan ayahnya saat hari demi hari hanya dilewatinya bersama ibu—tapi apakah bisa orang mati hidup kembali? Sedangkan dia—Abel terisak makin keras. Dia ibu yang jahat yang tak berperasaan. Dia hidup—Bob hidup. Dan mengapa Adhit harus tumbuh tanpa kedua orang tuanya? Abel tak mau Adhit kekurangan kasih sayang seperti apa yang dialaminya dulu… Tapi melahirkan lalu membuangnya? Sungguh Abel ibu yang jahat.
Dan Brian—dia sebenarnya telah merencanakan untuk memanggil polisi jika Abel tak mau mengakui perbuatannya, dia bahkan telah menghubungi pengacaranya untuk ikut membantu kasus ini. Tapi Wulan—dengan segala kelembutannya, sepertinya gadis itu—yang saat di mobil tadi kebingungan bagaimana caranya agar Abel mau menerima dan merawat Adhit dengan baik, telah menemukan caranya sendiri. Dia yang tak menyadari bahwa kelembutannyalah senjatanya… Hingga Brian berpikir untuk membatalkan segala niat yang berhubungan dengan pihak berwenang. Wulan akan menyelesaikannya tanpa pertumpahan darah…
Tanpa sadar Abel mengulurkan tangan. Meminta Wulan mengembalikan Adhit ke pelukannya. Wulan mengangguk sebelum tersenyum kearah Brian. Senyum bahagia yang tak bisa dia sembunyikan. Walaupun sebenarnya dia berat melepaskan Adhit—tapi sekarang Adhit mendapat pelukan hangat dari ibu kandungnya sendiri. Bagaimanapun itu lebih baik. Dilihatnya Abel memeluk Adhit dengan rindu menatap bayi itu dengan mata berbinar-binar. Abel berterima kasih pada Wulan, dan memberikan ijin padanya kapanpun dia mau dia bisa mendatangi apatement Abel.
“Sibuk?”
Wulan terkejut—hampir saja dia memotong jarinya sendiri biarpun sekarang jarinya sudah terlanjur berdarah karena pisau terlanjur menggores telunjuknya. Wulan memekik membuat Brian panik. Dia sedang mengiris bawang bombay untuk menyelesaikan spageti buatannya. Dan mengapa majikannya ini harus tiba-tiba berada di dapur. Bukankah rumah ini sangat luas—membuat hati Wulan berdebar-debar saja. Semenjak Adhit dibawa oleh ibunya, Wulan mulai kesepian, diapun mulai mencari informasi lowongan pekerjaan… Bagaimanapun dia sudah bebas sekarang. Bebas kemanapun dan apapun yang akan dia kerjakan. “Omaigat! Omaigat! Kotak obat, dimana? Dimana kalian menyimpannya?” Suaranya Brian sarat kekhawatiran.
Wulan menggeleng. “Saya nggak apa-apa… Ini cuma luka kecil…” Ujarnya sambil mengarahkan luka itu ke mulut untuk dihisapnya. Tapi lalu Brian dengan sigap menyabotase tangan itu dan membawanya ke mulutnya sendiri membuat Wulan terkesiap kaget. “Mas Brian… Jangan…” Ujar Wulan memohon. Pemandangan ini sungguh tak layak untuk dikategorikan majikan-pembantu. Membuat Wulan bergidik tentang adanya saksi mata. Dan yang paling penting—membuat jantungnya berdentum-dentum—bagaimana cara menghentikannya? Ya Tuhan…
“Sssttt! It’s okey…” Brian mengulum jari Wulan lagi sebelum akhirnya meniup-niup jari gadis itu dengan lembut. Dipandanginya Wulan yang saat itu merona—gadis itu sungguh cantik. Luar dalam. Lembut sekaligus kuat. Dia meraih kedua jemari Wulan. “Wulan…”
“Maaf Mas, orang rumah bisa melihat kita…” Wulan berusaha melepaskan genggaman Brian. Tapi pria itu menahannya—malah genggaman itu semakin kuat. “Apa kata mereka…?”
Brian tersenyum. “Biar saja… Saya rasa mereka akan maklum. Kita sama-sama single… Kamu lupa?”
Wulan menatap Brian. Pria ini—mengapa dia seperti ini? Menyiksa perasaannya… “Tapi kita nggak ada hubungan apa-apa? Dan saya—saya hanya seorang pembantu. Saya nggak mau orang lain berpikir macam-macam tentang saya…”
“Kalau gitu kita pacaran saja…”
Wulan mendelik. “Apa?”
“Atau kita langsung menikah saja? Bi Parti nggak mungkin menolak saya untuk menjadi menantu…”
Wulan makin gemetaran. Omong kosong macam apa ini? Wulan—dia memang gadis tak tahu malu yang tak bisa menahan diri untuk tak mencintai majikannya—gadis mana yang berani melakukannya? Itu tentu saja cuma di televisi dan novel. Tapi, haruskah Brian mempermainkan perasaannya? Tak bisakah dia becanda hal lain saja. “Mas Brian… Saya memang hanya pembantu, tapi saya punya harga diri… Tolong jangan permainkan saya seperti ini…”
Brian mundur selangkah. Masih tak mau melepaskan genggamannya. “Becanda? Aku serius Lan… Apa aku kelihatan becanda?” Tantang Brian dengan aku—kamu? Wulan bergidik. “Sekarang aku mau tanya dan kamu harus jawab sejujur-jujurnya, kamu dilarang berbohong…” Ancamnya serius.
Wulan diam saja. Lalu saat Brian melepaskan genggaman dan bersedekap dia berbicara lagi. “Bagaimana perasaanmu terhadapku?”
“Mas Brian majikan saya, saya harus menghormati Mas Brian…”
Mata Brian menyipit—jawaban polos, pikirnya—tapi bohong! “Lalu? Bagaimana dengan hati kamu?”
Wulan menjawab cepat. “Hati saya milik saya…”
“Memang—tapi masalahnya, kamu yang memiliki hatiku… Jadi tak bisakah kamu memberikan hatimu juga buat aku?” Wulan melongo. “Aku cinta sama kamu Wulan… Tak bisakah kamu melihat itu?” Memang sih, sejak Adhit tak menjadi tanggung jawab Wulan, Brian menjadi sering muncul di hadapan gadis itu—karena tentu saja Wulan semakin sering berada di sudut manapun dirumah ini agar tak kesepian lagi. Dan tiba-tiba, Brian selalu muncul dihadapannya. Menyapanya lalu menungguinya bekerja. Majikan kurang kerjaan mana yang bisa melakukan hal itu selain Brian? “Say something…”
“Mas Brian nggak malu suka sama saya?”
Brian mengedikkan bahu. “Kenapa harus malu? Mereka yang tak tahu malulah yang menganggap manusia itu berbeda. Padahal semua dimataNYA sama saja…” Wulan tersenyum. “Apa arti senyummu itu?”
Wulan mengedikkan bahu. “Orang yang tak bisa senyumlah yang belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta…”
Brian memutar mata. “Maksudmu?”
“Menurutmu?”
“Jangan buat aku menebak-nebak.”
“Aku sedang nggak bermain teka-teki…” Ujar Wulan masih tak menjawab.
“Wulan… Please….”
“Aku cinta sama kamu… Brian Wirasena… Maukah kau menjadi pacarku?”
“Beraninya kamu nembak majikan kamu sendiri… Aku akan membuat perhitungan sama kamu…” Wulan berlari melewati Brian dan Brian mengejarnya dari belakang, mereka tertawa terbahak-bahak membuat seisi rumah terkejut. Siapa pula yang berani tertawa sekeras itu dirumah ini? Selama ini rumah ini sepi-sepi saja… Dan untuk pertama kalinya setelah kepergian kedua orang tua Brian—rumah ini seolah kembali hidup lagi… Brian tak ingin rumah ini mati lagi—dia menginginkan yang lebih lagi—dan kehadiran anak-anak merekalah yang akan membawa kehidupan yang berwarna dalam rumah mereka nantinya.
END
By_Ristin Fimantika
Tuesday, April 29, 2014
DIA MENEMUKAN SESEORANG
Aku mengelus dada yang bergemuruh. Mengatasi dua anak remaja yang beranjak dewasa memang harus ekstra sabar. Ekstra telaten. Butuh waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Setiap hari harus berlari kesana kemari menyiapkan seragam sekolah, bangun dini hari untuk mengolah semua bahan makanan dan dijual tepat ketika semua orang sibuk tergesa menuju tempat kerja. Aku ingin sekali menjadi salah satu dari mereka. Berangkat ke kantor, jam kerja pasti, gaji tetap, tunjangan terjamin. Siapa yang tidak mau???
“Ayo anak-anak… Ibu harus jualan…” Ujarku ketika kedua anakku santai menyiapkan diri mereka. Tak jarang aku harus berteriak karena kesal terhadap keduanya. Tak bisakah mereka memahami sedikit saja keadaanku?
Radith tiga belas, Ditya sembilan tahun. Bisa dibayangkan berapa usia pernikahan yang sudah kami lalui. Radith keras kepala. Sedangkan Ditya—putriku ini sangat aktif. Radith menggunakan sepedanya ke sekolah, sedangkan Ditya, aku lebih memperhatikan dia. Umurnya lebih muda, dia belum terlalu paham dengan masalah yang sedang kuhadapi. Aku selalu menyempatkan diri untuk mengantarnya ke sekolah dan menitipkan lapak nasi udukku di depan gang ke penjual kue yang berjualan di sebelahku. Berharap dia tak keberatan.
Terkadang aku menyesali keputusan yang kuambil dulu. Mengapa aku harus mengundurkan diri dan memilih menjadi ibu rumah tangga kalau kejadiannya akan menjadi seperti ini. Ini adalah takdir yang tak pernah kuharap datang. Mengabdikan diri sepenuhnya untuk suami, anak-anak, keluarga. Dan hasilnya? Diluar dugaan. Suamiku menusukku dari belakang. Sesuatu yang membuatku ingin menyayat nadi seketika. Memutusnya hingga aku tidak perlu mengalami penderitaan lebih panjang lagi di dunia. Tapi ketika aku mengingat Allah, aku mengurungkan niat itu. Bunuh diri adalah dosa besar. Kasihan anak-anak, kasihan keluargaku yang lain. Aku juga tidak mau kalau keluargaku menjadi gunjingan semua orang.
Tujuh bulan lalu…
“Mas… Hari ini pulang terlambat lagi?” Tanyaku sopan. Sudah beberapa hari suamiku pulang larut. Dia bilang sedang ada proyek baru dikantornya. Aku percaya saja karena dia terkenal sebagai orang yang berdedikasi baik. Tak mungkin dia berbohong.
Dia melirik—acuh. Tatapannya sedingin es. “Setiap hari tanya hal yang sama. Apa kamu mencurigaiku?” Aku terkejut. Ternyata diamnya menyimpan kesal. “Besok juga aku pulang terlambat. Jadi tidak usah ditanya!” Astagfirullah… Kenapa suamiku yang merupakan panutan dikantor, juga dihadapan para tetangga ini mendadak berubah. Apa yang salah?
Semenjak hari itu aku takut bertanya dan selalu menyiapkan makan malam yang tak tersentuh. Terkadang dia pulang sambil marah-marah. Mungkin terlalu kecapekan. Sesekali dia tak pulang—membuatku sangat khawatir. Apa yang dikerjakannya dikantor? Apa dia sudah makan? Aku terlalu takut meneleponnya.
Bukan tak percaya, tapi lama-lama aku tak tahan menyembunyikan rasa penasaran yang sudah mencapai titik tertinggi. Dengan ragu-ragu aku menghubungi kenalanku, Siska. Dia teman sekantor Mas Damar yang aku kenal di acara family gathering setahun yang lalu. Seharusnya Siska juga terlibat jika memang sedang ada proyek seperti yang dikatakan Mas Damar.
“Proyek?” Suara Siska sarat kebingungan. “Nggak ada kok Bu Laras. Saya dirumah sama anak-anak.” Ya Tuhan… Apa yang terjadi pada Mas Damar? Rasanya tubuhku mati rasa mendengar berita ini. Apa yang aku takutkan terjadi? “Ehm… Bu…” Ucapan Siska membuatku fokus kembali. “Sebenarnya…” Ujarnya ragu. “Ibu janji jangan bilang Pak Damar ya…” Aku mengangguk meskipun dia tak dapat melihatnya. “Pak Damar…” Kata-kata Siska yang selalu ragu dan terbata ini membuatku semakin yakin akan apa yang akan dikatakannya. “Dia sedang dekat dengan bawahannya…” Pelupuk mataku seketika menggenang. Dibanjiri oleh air mata. Aku langsung menutup telepon tak sanggup berkata lagi ataupun mendengarkan kalimat Siska berikutnya.
Langit-langit kamar rasanya hanya sejengkal. Seolah menghimpit dadaku. Sesak. Aku termenung—menangis—bertanya-tanya dimana Mas Damar sekarang. Kenapa dia tega melakukan ini terhadap orang yang telah mendampinginya selama ini? Apa dia tidak mengingat Radith dan Ditya ketika melakukan itu? Aku membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pologami atau perceraian. Perih. Selama ini, aku selalu siap mengorbankan apapun untuknya, melakukan apapun yang diinginkannya. Aku terlalu percaya diri karena menganggap dirikulah dimatanya yang paling berharga.
“Mas, menginap dikantor lagi?” Tanyaku hati-hati keesokan harinya setelah dia pulang kerja. Seragamnya masih yang kemarin. Kusut.
Dia menghela nafas dan mendengus. Seharusnya aku yang berhak melakukan itu. kamilah korbannya, bukan dia. “Iya” Jawabnya singkat tak terdengar enak di telinga.
“Bersama wanita itu?” Mataku berkaca-kaca.
Dia menengok. Cepat. “Oh, jadi kamu memata-mataiku?” Tuduhnya sambil menyeringai. Aku diam. Menunggunya mengatakan sesuatu. “Ya, aku akan tinggal dengannya.” Ujarnya tenang tak merasa bersalah. Sedikitpun.
“Istighfar, Mas…” Aku sudah menangis. “Tidakkah Mas merasa bersalah terhadap kami?,” tanyaku berlinang air mata. Radith tidak dirumah, dia bilang akan main futsal. Sedangkan Ditya, dia kumasukkan ke madrasah dekat rumah.
Dia tertawa. Pahit. Menyakitkan. “Aku?” Tanyanya. “Seharusnya aku yang bertanya itu! Apa yang salah denganmu?” katanya sambil membereskan pakaian dan memasukkannya ke ransel yang biasa kami gunakan untuk perjalanan jauh.
Aku menutup mulut. Termenung. Apa yang salah denganku? Tak sabar ingin mendengar jawaban, aku menarik lengannya hingga menjatuhkan tumpukan pakaian yang sedang ia pegang. Dia langsung memaki perbuatanku. Melemparkan kata-kata kasar yang selama ini tak pernah kudengar keluar dari mulutnya. Sejauh itu dia membenciku… “Kenapa denganku?” Tanyaku. “Aku selalu berusaha menjadi istri yang Mas inginkan?”
“Aku capek.” Katanya. “Aku bosan.” Tegasnya. “Aku sudah menikahinya…”
Aku menangis. Terisak. Bersimpuh di telapak kaki Mas Damar. Hal yang biasanya kulakukan ketika memohon maaf padanya, kemudian dia akan memelukku penuh kasih. Tapi, sekarang berbeda. Air mataku tumpah karena apa yang telah dia lakukan dibelakangku. Dia berselingkuh. Aku ingin menghakiminya. Tapi terlalu bodoh. Bukannya minta cerai, aku malah memohon padanya untuk tetap tinggal.
Dia hanya terpaku dan mengacuhkan tangisku yang tak juga berhenti. Hatinya telah membantu. Betapapun kerasnya aku berusaha, dia tetap meninggalkan kami.
Tetes hujan mengguyur bumi tanpa ampun. Dedaunan di ranting pohon depan berayun-ayun terhempas angin. Udara dingin berselimut lembab menyergap dan memenjarakan kami dirumah. Aku, Radith dan Ditya. Kami berpelukan sedih. Biasanya ketika hujan begini, kami sekeluarga akan duduk di ruang tamu dan menyesap teh bersama, bercengkerama hingga hujan berakhir.
“Bu… Bapak kemana sih, kok nggak pulang-pulang?” Pertanyaan Ditya membuatku sedih. Aku bingung apa yang akan kukatakan padanya—sementara Radith hanya diam. Dia sangat paham situasi ini.
Aku tersenyum. Membelai rambut Ditya dan menarik bahu Radith agar mendekat. “Ditya kangen sama Bapak?” Dia langsung mengangguk. aku berusaha mati-matian agar tak menangis dihadapan mereka. Aku tidak ingin membuat mereka jadi orang yang rapuh kelak. Aku ingin mereka kuat.
“Kalau ditanya orang, jawab saja Bapak dinas keluar kota!” Sahut Radith mengambil alih. Itu yang pernah aku katakan padanya.
Pernah suatu kali ketika aku datang ke sekolah untuk mengambil raportnya, ketika dia tak mengetahui kedatanganku. Teman-teman Radith sedang mengamit lengan ayahnya, kecuali dia. Dan ketika ditanya, dia menjawab hal yang sama. Itu adalah hari dimana aku mendengar dengan telingaku sendiri bahwa anakku benar-benar mendapat pertanyaan itu. sakit rasanya.
Tiga bulan lalu…
Tok! Tok! Tok! Palu di pengadilan terdengar seperti petir. Menyambar-nyambar telinga juga hatiku dan membuat kelapala ini terasa mau pecah. Mediasi yang kami lakukan beberapa kali tak membuahkan hasil. Dia tak pernah datang dan hanya mengirimkan wakil yang semakin mempersulit keadaan. Keluarganya mendukung keputusan Mas Damar untuk menceraikanku. Sedangkan aku? Sekuat tenaga aku mempertahankan perkawinan yang nyaris dua windu. Aku kekeuh untuk tetap menjadi istrinya. Aku berkata bahwa aku akan memaafkan kesalahannya, tapi dia sedikitpun tak berniat meminta maaf padaku. Apa yang bisa kulakukan sekarang? Aku pasrah dan menangis sejadinya.
Hak asuh anak yang jatuh ketanganku membuatku bernafas lega. Setidaknya aku masih punya mereka. Tapi ketika aku melihat berapa tunjangan per bulan yang ia berikan kepada kami, sangat mustahil bagi kami untuk dapat hidup dalam sebulan dengan nominal yang sangat minim. Dia hanya menghitung berapa biaya sekolah anak-anak dan uang jajan mereka setiap bulannya.
Berbekal keberanian aku mencegatnya didepan kantor pengadilan. Keluarganya menahanku untuk bertemu dengannya, tapi toh aku berhasil juga membobol pertahanan itu. ”Mas ingin membuat anak-anak kelaparan?” Ujarku sesenggukan. Mereka beramai-ramai memelototiku dan memberiku komentar pedas yang membuat telinga panas, sedangkan aku berdiri dengan hanya dua kaki. Tanpa pendamping. Aku tak ingin merepotkan keluargaku, tetangga, juga teman-temanku. Mereka sudah terlalu banyak membantu, mendengar keluh kesahku, membantu keuangan yang terkadang harus membuatku gali lubang tutup lubang. Anak-anak kutitipkan pada Rahma, salah satu tetangga yang menjadi teman baikku setelah dia pindah ke perumahan ini.
Seringainya membuatku kesal. Ingin rasanya aku mengambil pisau dan menikam tepat di jantungnya. Kenapa dia setega itu terhadap kami? ”Itu sudah lebih dari cukup. Kamu boleh menempati rumah itu.” Rumah yang kami tempati adalah rumah berukuran kecil yang sederhana yang masih harus diangsur setiap bulan. Dan penuh kebahagiaan—dulu.
Ya Tuhan... Aku memang mempunyai ijazah strata satu, tapi perusahaan mana yang mau menerima pegawai yang usianya sudah nyaris berkepala empat? Andai saja pengalaman kerjaku yang seumur jagung bisa dipertimbangkan, aku pasti tak akan pusing mencari pekerjaan. Apapun.
Kemarin aku bertemu dengan salah seorang teman. Teman Mas Damar lebih tepatnya, ketika aku sedang memeriksakan Ditya yang demamnya tak kunjung turun. Dia sedang mengantar istrinya yang sedang kontrol kandungan. Kami berbicara panjang lebar sampai akhirnya dia mengatakan hal yang entah aku harus sedih atau senang mendengarnya. Tapi sebelah hatiku merasa iba.
”Promosinya dibatalkan.” Dia bilang bahwa kinerja Mas Damar mulai menurun semenjak kami bercerai, entah apa yang terjadi dengannya. Aku pikir dia telah bahagia dengan pasangan hidupnya yang baru. Yang lebih muda dan cantik.
Memang, akhir bulan lalu, tanggal dimana dia seharusnya mentransfer uang ke rekeningku untuk anak-anak, dia seolah menghindar. Lari dari tanggung jawab. Aku sampai harus meneleponnya seperti pengemis yang kelaparan untuk memperjuangkan hak Radith dan Ditya. Aku bisa mengusahakan materi untuk kehidupanku sendiri. Akhir-akhir ini jualanku semakin ramai. Sesekali aku mendapat pesanan nasi uduk juga kue kering. Alhamdulillah...
Aku memang tak bisa mencari pekerjaan di perusahaan besar seperti perusahaan yang menggaji Mas Damar. Tapi aku senang... Aku bisa mencari kesibukan sendiri yang menghasilkan uang. Untuk tambahan uang jajan anak-anak dan sesekali mengajak mereka berenang seperti yang keluarga lain lakukan. Aku yakin, Tuhan tak akan menyengsarakan umatnya...
“Ayo anak-anak… Ibu harus jualan…” Ujarku ketika kedua anakku santai menyiapkan diri mereka. Tak jarang aku harus berteriak karena kesal terhadap keduanya. Tak bisakah mereka memahami sedikit saja keadaanku?
Radith tiga belas, Ditya sembilan tahun. Bisa dibayangkan berapa usia pernikahan yang sudah kami lalui. Radith keras kepala. Sedangkan Ditya—putriku ini sangat aktif. Radith menggunakan sepedanya ke sekolah, sedangkan Ditya, aku lebih memperhatikan dia. Umurnya lebih muda, dia belum terlalu paham dengan masalah yang sedang kuhadapi. Aku selalu menyempatkan diri untuk mengantarnya ke sekolah dan menitipkan lapak nasi udukku di depan gang ke penjual kue yang berjualan di sebelahku. Berharap dia tak keberatan.
Terkadang aku menyesali keputusan yang kuambil dulu. Mengapa aku harus mengundurkan diri dan memilih menjadi ibu rumah tangga kalau kejadiannya akan menjadi seperti ini. Ini adalah takdir yang tak pernah kuharap datang. Mengabdikan diri sepenuhnya untuk suami, anak-anak, keluarga. Dan hasilnya? Diluar dugaan. Suamiku menusukku dari belakang. Sesuatu yang membuatku ingin menyayat nadi seketika. Memutusnya hingga aku tidak perlu mengalami penderitaan lebih panjang lagi di dunia. Tapi ketika aku mengingat Allah, aku mengurungkan niat itu. Bunuh diri adalah dosa besar. Kasihan anak-anak, kasihan keluargaku yang lain. Aku juga tidak mau kalau keluargaku menjadi gunjingan semua orang.
Tujuh bulan lalu…
“Mas… Hari ini pulang terlambat lagi?” Tanyaku sopan. Sudah beberapa hari suamiku pulang larut. Dia bilang sedang ada proyek baru dikantornya. Aku percaya saja karena dia terkenal sebagai orang yang berdedikasi baik. Tak mungkin dia berbohong.
Dia melirik—acuh. Tatapannya sedingin es. “Setiap hari tanya hal yang sama. Apa kamu mencurigaiku?” Aku terkejut. Ternyata diamnya menyimpan kesal. “Besok juga aku pulang terlambat. Jadi tidak usah ditanya!” Astagfirullah… Kenapa suamiku yang merupakan panutan dikantor, juga dihadapan para tetangga ini mendadak berubah. Apa yang salah?
Semenjak hari itu aku takut bertanya dan selalu menyiapkan makan malam yang tak tersentuh. Terkadang dia pulang sambil marah-marah. Mungkin terlalu kecapekan. Sesekali dia tak pulang—membuatku sangat khawatir. Apa yang dikerjakannya dikantor? Apa dia sudah makan? Aku terlalu takut meneleponnya.
Bukan tak percaya, tapi lama-lama aku tak tahan menyembunyikan rasa penasaran yang sudah mencapai titik tertinggi. Dengan ragu-ragu aku menghubungi kenalanku, Siska. Dia teman sekantor Mas Damar yang aku kenal di acara family gathering setahun yang lalu. Seharusnya Siska juga terlibat jika memang sedang ada proyek seperti yang dikatakan Mas Damar.
“Proyek?” Suara Siska sarat kebingungan. “Nggak ada kok Bu Laras. Saya dirumah sama anak-anak.” Ya Tuhan… Apa yang terjadi pada Mas Damar? Rasanya tubuhku mati rasa mendengar berita ini. Apa yang aku takutkan terjadi? “Ehm… Bu…” Ucapan Siska membuatku fokus kembali. “Sebenarnya…” Ujarnya ragu. “Ibu janji jangan bilang Pak Damar ya…” Aku mengangguk meskipun dia tak dapat melihatnya. “Pak Damar…” Kata-kata Siska yang selalu ragu dan terbata ini membuatku semakin yakin akan apa yang akan dikatakannya. “Dia sedang dekat dengan bawahannya…” Pelupuk mataku seketika menggenang. Dibanjiri oleh air mata. Aku langsung menutup telepon tak sanggup berkata lagi ataupun mendengarkan kalimat Siska berikutnya.
Langit-langit kamar rasanya hanya sejengkal. Seolah menghimpit dadaku. Sesak. Aku termenung—menangis—bertanya-tanya dimana Mas Damar sekarang. Kenapa dia tega melakukan ini terhadap orang yang telah mendampinginya selama ini? Apa dia tidak mengingat Radith dan Ditya ketika melakukan itu? Aku membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pologami atau perceraian. Perih. Selama ini, aku selalu siap mengorbankan apapun untuknya, melakukan apapun yang diinginkannya. Aku terlalu percaya diri karena menganggap dirikulah dimatanya yang paling berharga.
“Mas, menginap dikantor lagi?” Tanyaku hati-hati keesokan harinya setelah dia pulang kerja. Seragamnya masih yang kemarin. Kusut.
Dia menghela nafas dan mendengus. Seharusnya aku yang berhak melakukan itu. kamilah korbannya, bukan dia. “Iya” Jawabnya singkat tak terdengar enak di telinga.
“Bersama wanita itu?” Mataku berkaca-kaca.
Dia menengok. Cepat. “Oh, jadi kamu memata-mataiku?” Tuduhnya sambil menyeringai. Aku diam. Menunggunya mengatakan sesuatu. “Ya, aku akan tinggal dengannya.” Ujarnya tenang tak merasa bersalah. Sedikitpun.
“Istighfar, Mas…” Aku sudah menangis. “Tidakkah Mas merasa bersalah terhadap kami?,” tanyaku berlinang air mata. Radith tidak dirumah, dia bilang akan main futsal. Sedangkan Ditya, dia kumasukkan ke madrasah dekat rumah.
Dia tertawa. Pahit. Menyakitkan. “Aku?” Tanyanya. “Seharusnya aku yang bertanya itu! Apa yang salah denganmu?” katanya sambil membereskan pakaian dan memasukkannya ke ransel yang biasa kami gunakan untuk perjalanan jauh.
Aku menutup mulut. Termenung. Apa yang salah denganku? Tak sabar ingin mendengar jawaban, aku menarik lengannya hingga menjatuhkan tumpukan pakaian yang sedang ia pegang. Dia langsung memaki perbuatanku. Melemparkan kata-kata kasar yang selama ini tak pernah kudengar keluar dari mulutnya. Sejauh itu dia membenciku… “Kenapa denganku?” Tanyaku. “Aku selalu berusaha menjadi istri yang Mas inginkan?”
“Aku capek.” Katanya. “Aku bosan.” Tegasnya. “Aku sudah menikahinya…”
Aku menangis. Terisak. Bersimpuh di telapak kaki Mas Damar. Hal yang biasanya kulakukan ketika memohon maaf padanya, kemudian dia akan memelukku penuh kasih. Tapi, sekarang berbeda. Air mataku tumpah karena apa yang telah dia lakukan dibelakangku. Dia berselingkuh. Aku ingin menghakiminya. Tapi terlalu bodoh. Bukannya minta cerai, aku malah memohon padanya untuk tetap tinggal.
Dia hanya terpaku dan mengacuhkan tangisku yang tak juga berhenti. Hatinya telah membantu. Betapapun kerasnya aku berusaha, dia tetap meninggalkan kami.
Tetes hujan mengguyur bumi tanpa ampun. Dedaunan di ranting pohon depan berayun-ayun terhempas angin. Udara dingin berselimut lembab menyergap dan memenjarakan kami dirumah. Aku, Radith dan Ditya. Kami berpelukan sedih. Biasanya ketika hujan begini, kami sekeluarga akan duduk di ruang tamu dan menyesap teh bersama, bercengkerama hingga hujan berakhir.
“Bu… Bapak kemana sih, kok nggak pulang-pulang?” Pertanyaan Ditya membuatku sedih. Aku bingung apa yang akan kukatakan padanya—sementara Radith hanya diam. Dia sangat paham situasi ini.
Aku tersenyum. Membelai rambut Ditya dan menarik bahu Radith agar mendekat. “Ditya kangen sama Bapak?” Dia langsung mengangguk. aku berusaha mati-matian agar tak menangis dihadapan mereka. Aku tidak ingin membuat mereka jadi orang yang rapuh kelak. Aku ingin mereka kuat.
“Kalau ditanya orang, jawab saja Bapak dinas keluar kota!” Sahut Radith mengambil alih. Itu yang pernah aku katakan padanya.
Pernah suatu kali ketika aku datang ke sekolah untuk mengambil raportnya, ketika dia tak mengetahui kedatanganku. Teman-teman Radith sedang mengamit lengan ayahnya, kecuali dia. Dan ketika ditanya, dia menjawab hal yang sama. Itu adalah hari dimana aku mendengar dengan telingaku sendiri bahwa anakku benar-benar mendapat pertanyaan itu. sakit rasanya.
Tiga bulan lalu…
Tok! Tok! Tok! Palu di pengadilan terdengar seperti petir. Menyambar-nyambar telinga juga hatiku dan membuat kelapala ini terasa mau pecah. Mediasi yang kami lakukan beberapa kali tak membuahkan hasil. Dia tak pernah datang dan hanya mengirimkan wakil yang semakin mempersulit keadaan. Keluarganya mendukung keputusan Mas Damar untuk menceraikanku. Sedangkan aku? Sekuat tenaga aku mempertahankan perkawinan yang nyaris dua windu. Aku kekeuh untuk tetap menjadi istrinya. Aku berkata bahwa aku akan memaafkan kesalahannya, tapi dia sedikitpun tak berniat meminta maaf padaku. Apa yang bisa kulakukan sekarang? Aku pasrah dan menangis sejadinya.
Hak asuh anak yang jatuh ketanganku membuatku bernafas lega. Setidaknya aku masih punya mereka. Tapi ketika aku melihat berapa tunjangan per bulan yang ia berikan kepada kami, sangat mustahil bagi kami untuk dapat hidup dalam sebulan dengan nominal yang sangat minim. Dia hanya menghitung berapa biaya sekolah anak-anak dan uang jajan mereka setiap bulannya.
Berbekal keberanian aku mencegatnya didepan kantor pengadilan. Keluarganya menahanku untuk bertemu dengannya, tapi toh aku berhasil juga membobol pertahanan itu. ”Mas ingin membuat anak-anak kelaparan?” Ujarku sesenggukan. Mereka beramai-ramai memelototiku dan memberiku komentar pedas yang membuat telinga panas, sedangkan aku berdiri dengan hanya dua kaki. Tanpa pendamping. Aku tak ingin merepotkan keluargaku, tetangga, juga teman-temanku. Mereka sudah terlalu banyak membantu, mendengar keluh kesahku, membantu keuangan yang terkadang harus membuatku gali lubang tutup lubang. Anak-anak kutitipkan pada Rahma, salah satu tetangga yang menjadi teman baikku setelah dia pindah ke perumahan ini.
Seringainya membuatku kesal. Ingin rasanya aku mengambil pisau dan menikam tepat di jantungnya. Kenapa dia setega itu terhadap kami? ”Itu sudah lebih dari cukup. Kamu boleh menempati rumah itu.” Rumah yang kami tempati adalah rumah berukuran kecil yang sederhana yang masih harus diangsur setiap bulan. Dan penuh kebahagiaan—dulu.
Ya Tuhan... Aku memang mempunyai ijazah strata satu, tapi perusahaan mana yang mau menerima pegawai yang usianya sudah nyaris berkepala empat? Andai saja pengalaman kerjaku yang seumur jagung bisa dipertimbangkan, aku pasti tak akan pusing mencari pekerjaan. Apapun.
Kemarin aku bertemu dengan salah seorang teman. Teman Mas Damar lebih tepatnya, ketika aku sedang memeriksakan Ditya yang demamnya tak kunjung turun. Dia sedang mengantar istrinya yang sedang kontrol kandungan. Kami berbicara panjang lebar sampai akhirnya dia mengatakan hal yang entah aku harus sedih atau senang mendengarnya. Tapi sebelah hatiku merasa iba.
”Promosinya dibatalkan.” Dia bilang bahwa kinerja Mas Damar mulai menurun semenjak kami bercerai, entah apa yang terjadi dengannya. Aku pikir dia telah bahagia dengan pasangan hidupnya yang baru. Yang lebih muda dan cantik.
Memang, akhir bulan lalu, tanggal dimana dia seharusnya mentransfer uang ke rekeningku untuk anak-anak, dia seolah menghindar. Lari dari tanggung jawab. Aku sampai harus meneleponnya seperti pengemis yang kelaparan untuk memperjuangkan hak Radith dan Ditya. Aku bisa mengusahakan materi untuk kehidupanku sendiri. Akhir-akhir ini jualanku semakin ramai. Sesekali aku mendapat pesanan nasi uduk juga kue kering. Alhamdulillah...
Aku memang tak bisa mencari pekerjaan di perusahaan besar seperti perusahaan yang menggaji Mas Damar. Tapi aku senang... Aku bisa mencari kesibukan sendiri yang menghasilkan uang. Untuk tambahan uang jajan anak-anak dan sesekali mengajak mereka berenang seperti yang keluarga lain lakukan. Aku yakin, Tuhan tak akan menyengsarakan umatnya...
Monday, April 21, 2014
AISHITEIMASU...
Mela berdiri di persimpangan jalan. Tangan kirinya memegang clutch abu-abu, sedangkan sebelah tangan yang lain meremas tisu kumal. Dia sudah menyiksa benda itu sejak sejam lalu. Matanya sudah berhenti menangis, namun wajahnya lengket. Tapi, bukannya ke toilet, dia malah kabur dari restoran dan berjalan tak tentu arah. Kakinya terasa pegal dalam tumpuan high heel yang tak bisa dibilang rendah. Dan semua yang dikenakannya masih sama dengan yang apa yang ia lihat di cermin tadi pagi.
“Are you okey?” Seseorang menurunkan kaca mobil. Hampir saja karena kecerobohan Mela, pria asing yang berbicara dengan aksen aneh itu akan masuk penjara. Atau supirnya? Tapi dia malah membanting pintu dan mengkhawatirkan kondisi Mela yang tak sedikitpun tersentuh mobil. Mela menggeleng. Heran dengan pria ajaib yang tak memaki karena jalannya sudah terganggu.
“Arigatou gozaimasu. Konnichiwa…(Terima kasih banyak. Selamat siang…)” Mela membungkuk ke puluhan lawan bicaranya. Dia seorang Interpreter bahasa Jepang. Karenanya tak heran jika para orang-orang Jepang menyukainya. Termasuk Mr. Kimura yang baru dilihatnya hari ini, namun terasa familiar di penglihatannya. Tapi dimana? Mela tersenyum kearahnya sambil mengucapkan kalimat panjang yang tak di mengerti peserta meeting dan mulai membenahi agenda yang berserakan di meja. Setelah membungkuk, dia berpamitan dengan Mr. Kimura yang sepertinya enggan membiarkan gadis itu pergi. Namun, dia tak bisa berbuat apa-apa.
Mela merasa puas dengan apa yang dikerjakannya hari ini, membantu menerjemahkan apa yang dikatakan Mr. Kimura yang berkewarganegaraan Jepang. Perusahaan tempat Mela bekerja merupakan perusahaan yang sahamnya mayoritas dimiliki oleh negeri sakura itu.
Lelah seharian bekerja tak menyurutkan niat Mela untuk menyempatkan mampir di restoran langganannya. Ardhi dulu sering membawanya ke tempat ini. Namun, itu semua berakhir sejak Ardhi memutuskan untuk bertunangan dengan wanita lain. Enam bulan lalu. Lagipula dia merasa tak punya hak untuk memaksakan perasaan Ardhi untuk dapat menyukainya, apalagi memaksakan keyakinan yang berbeda. Dia akhirnya mengerti mengapa para selebritis harus kabur ke luar negeri hanya untuk melangsungkan pernikahan.
“Boleh saya duduk disini?” Seseorang yang membuyarkan lamunannya dengan bahasa Indonesia yang resmi namun terbata. Seolah untuk mengatakan kalimat pendek itu dia berpikir dengan susah payah. Disini memang Mela sering mendapat sapaan resmi dari para pengunjung, namun ketika dia membalasnya dengan bahasa Jepang fasih mereka akan tersenyum senang. Bangga karena menemukan orang Indonesia yang menguasai bahasanya.
Mela menoleh dan tersenyum. Lalu mengangguk. Dia tak membungkuk seperti yang biasa dilakukannya ketika di kantor, mengangguk sudah cukup bagi orang Indonesia. Batinnya.
Mela senang karena ternyata Mr. Kimura bisa memperlakukannya sebagai teman ketika diluar kantor. Mereka sepakat untuk menggunakan bahasa Jepang saja ketika mengobrol. Kimura tak pandai berbahasa Indonesia.
Mela bekerja sama dengan banyak orang Jepang setiap harinya, tapi dia tak pernah mendapat perlakuan spesial ketika terpaksa menumpang di mobil mereka untuk pulang saat jam terlalu larut. Tapi malam ini Mr. Kimura bersedia turun dan membukakan pintu mobil untuknya. Dia gugup. Sedangkan supir Mr. Kimura hanya memperhatikan mereka dari kaca spion.
Mela memelototi mobil Mr. Kimura sampai menghilang di tikungan. Dia tersenyum. Diam-diam memuji ketampanan pria itu. Juga sifat baiknya. Jantungnya berdegup kencang mengingat ketika pria itu membukakan pintu mobil. Dia jatuh cinta. Tak perlu melewati proses yang panjang dan penuh liku seperti apa yang pernah dirasakannya dulu terhadap Ardhi, hanya dalam hitungan detik, ketika dia membukakan pintu mobil, Mela langsung jatuh cinta. Adegan ketika dia turun dari mobil terlihat tak asing, Mela merasa pernah mengalami sebelumnya.
Tapi kemudian dia membekap mulutnya sendiri, menghentikan senyuman penuh cinta yang tergambar jelas di wajah cantik yang terbingkai rambut hitam panjang nan pekat. Dia menunduk sedih. Dulu, Mela tak pernah mengaku menyukai Ardhi. Itu sangat menyiksa. Now, apa dia harus melakukannya lagi? Memendam perasaan itu karena dia tak mau berpindah keyakinan atau sebaliknya, memaksakan keyakinan orang yang disukainya. Lagipula, mengapa Mela sangat percaya diri kalau Mr. Kimura yang cerdas, yang merupakan perwakilan dari kantor pusat kami di Jepang, yang baru pertama kali ditemuinya ini akan menyukai Mela? Seorang Indonesia yang pasti bukan kriterianya. Tubuh Mela tak terlalu tinggi, meski bisa dibilang cukup proporsional. Kulitnya juga tak sepucat dan sebersih orang-orang Jepang.
“Moshimoshi…(Hallo…) Mela san… Anata wa dokoni imasu (Kamu dimana)?” Suara Mr. Kimura diujung ponsel membuat senyum Mela mengembang. Setiap hari, pagi siang malam, pria itu selalu menanyakan keberadaannya, apa yang sedang ia lakukan, Mela sampai bingung mengartikan perhatian itu. Dia harus senang atau sedih karena tak bisa berharap banyak dari hubungan ini.
Mela menyebut restoran langganannya. Dia menenggak Ocha (Teh hijau) dingin sampai tak bersisa, lalu memanggil pelayan untuk mengisi ulang gelasnya. Tubuh Mela panas dan gemetaran setiap kali pria itu menelepon. Dan seingatnya, seharusnya pria itu masih berada di Jepang sampai seminggu kedepan.
Hari dimana dia mengantar Mela pulang adalah hari pembuka jalan bagi Kimura untuk mengajak gadis itu di waktu berikutnya. Beberapa kali meminta Interpreter lain untuk menggantikan tugas Mela demi bisa mengajak gadis itu keluar.
Kening Mela berkerut mendengar sambungan telepon terputus. Dan tiba-tiba saja Kimura sudah berada di hadapannya. Wajahnya kusut. Dan sedikit kurus. Seharusnya banyak makanan lezat yang dapat ditemuinya di Jepang dibanding negara ini.
“Kimura san?” Pekik Mela sambil berdiri terkejut. Gugup. “Tanggal berapa sekarang?” Tanya gadis itu kebingungan lalu meraih kalender di meja. Pengunjung di sekeliling tampak memperhatikannya. “Seharusnya…”
Kimura tersenyum, menghentikan kalimat Mela yang mengambang. Lalu memanggil pelayan dan memesan makanan yang sama dengan apa yang sedang terhidang di meja Mela. Sushi. Dia senang karena makanan khas negaranya menjadi makanan favorit Mela
Mata Mela berkedip-kedip penasaran. Menunggu pria itu mengatakan sesuatu.
Kimura mengedikkan bahu. “I don’t know…” Aksen bahasa inggrisnya terdengar aneh dan lagi-lagi tak asing. Tapi dimana Mela pernah mendengarnya.
Mela sangat senang. Berkali-kali dia mematut gaya di depan cermin. Kimono berwarna merah muda itu sangat pas di tubuhnya. Dia telah satu jam berusaha memahami cara menggunakan pakaian itu. Tak semudah yang dibayangkan. Dia harus memelototi google untuk bisa segera lulus dari ujian ini. Kimura memberikannya sebagai oleh-oleh dan meminta Mela segera mengirimkan foto dirinya yang sedang mengenakan pakaian tersebut. Dengan malu-malu Mela mengambil gambarnya sendiri yang beradu pandang dengannya di cermin.
“Moshimoshi…” Ujarnya riang. Pasti Kimura sudah melihat potret dirinya mengenakan kimono. Mela menatap pipinya yang bersemu merah di cermin.
“Melanie…” Ini bukan dialek Jepang. Kaki Mela lemas. Dia terduduk di tepian tempat tidur. Mengapa dia harus menelepon sekarang? Bukankah seharusnya dia menikah minggu depan? Aku? Kenapa bukan gue?
Sejam setelah Ardhi menghubunginya, Mela segera menuju tempat mereka janjian. Dari awal gadis itu sudah menolak untuk bertemu dengan Ardhi, toh luka itu sudah mulai membaik. Bahkan lebih baik dari apa yang dipikirnya sebelum bertemu Kimura. Tapi, Mela tak bisa menolak ketika mendengar suara Ardhi yang memohon meminta kesediaannya. Pria itu pernah mengisi ruang terdalam dalam hatinya. Dan dia belum yakin kalau nama Ardhi telah benar-benar terhapus.
Mela menepis tangan Ardhi yang hendak menyentuh pipinya ketika menyambut kedatangan Mela. Ada apa dengan Mela? Pria itu tak bersalah. Dia hanya menerima takdirnya. Dijodohkan. “Mel… Please…”
Mela menarik kursi asal. “Sudah hampir setahun menghilang dan tiba-tiba muncul lagi.” Ketus. Entah mengapa Mela tak merasa senang dengan pertemuan ini.
Mela terkejut mendengar Ardhi membatalkan pernikahannya. Ini kabar baik atau kabar buruk? Haruskah dia bersorak? Namun, dia tak berkomentar. “Aku suka sama kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu. Setahun tanpamu benar-benar berat. Aku…” Ardhi terbata. Lalu tersenyum. Matanya berbinar karena akhirnya berani mengakui perasaannya.
Mela menatap Ardhi tak mengerti.
“Bukankah kamu menyukaiku? Kamu menangisi keputusanku saat itu. Kamu kecewa karena aku tak memilihmu. Kamu…”
Kening Mela berkerut. Bukan ini yang sekarang diinginkannya. Kepalanya berputar-putar, rasanya berat, panas dan seperti terbakar. Dan ketika pelayan datang membawakan Ogura, es krim kacang merah kesukaannya, Mela tak mau melewatkannya. Tak menghiraukan Ardhi yang kebingungan, tidak juga perduli siapa yang memesan minuman ini. “Lo temen yang baik. Dan gue dulu sempet suka sama lo. Tapi…” Kalimat Mela menggantung. “Kembalilah ke tunangan lo…”
“Please beri aku kesempatan.”
Mela menghela nafas dan menggeleng. Namun Ardhi masih tidak mau kalah dan terus melancarkan aksinya. Dia terus memaksa bahwa perbedaan itu bisa disatukan. Tak tahu kenapa, Mela jadi kesal dengannya. Dia yang Mela kenal dulu bukan orang yang seperti itu, tapi kenapa sekarang dia menyebalkan. Memaksakan kehendaknya sendiri. “Kita menikah di luar negeri!”
Mela terkejut. Dia menelan ludah. Mela benar-benar merasa menjadi salah satu selebritis Indonesia yang akan menelurkan sensasi dan akan segera menjadi tokoh utama dalam gosip teman-teman kantor. Ini tidak masuk akal. Bagaimana caranya mengatakan bahwa dia sudah tak menyukai Ardhi.
Brukkkk!!! Ketika bunyi itu bergemuruh, saat itu juga Mela melihat Ardhi telah tersungkur di lantai restoran. Kursi yang didudukinya tak kalah menyedihkan. Sudut bibirnya berdarah, dan dia mengerang kesakitan.
“Kamu tidak boleh mengambilnya.” Mela menoleh. Kimura ada di sebelahnya, tangannya mengepal dengan nafas tersengal. “Aku tak akan mengijinkanmu!” Tatapnya penuh ancaman pada Ardhi. Mereka sukses jadi penghibur para pengunjung hari ini. “Ayo…!” Kimura menyeret gadis itu setelah meninggalkan beberapa lembar uang bernilai tinggi di meja.
Sepanjang perjalanan Mela terdiam, tak jauh beda dengan Kimura. Pria itu mendadak dingin. Mela ketakutan semobil dengannya. Pria ini tak seperti pria biasanya, yang setiap bertemu Mela akan terlihat riang. Dia duduk di sebelah supir, dan Mela duduk di kursi belakang. Dia bisa melihat wajah Kimura yang tegang dari kaca spion.
Hari masih pagi ketika ketukan pintu apartement terdengar nyaring di telinga Mela. Wajahnya pucat, matanya sembab. Beruntung karena hari minggu, dia tak perlu repot-repot memikirkan apa yang akan dipikirkan orang dengan tampilan itu. Mela segera berlari ke pintu dan tak ingin menebak siapa yang ada dibaliknya. Mela terbengong. Dan segera mendorong pria itu menjauh, lalu berjalan tergesa keluar gedung. Angin pagi terasa menusuk tulang sumsum. Kimura mengikutinya dari belakang.
“Gomen’ nasai…(aku minta maaf)” Ujarnya menghentikan langkah Mela. Gadis itu berbalik dan mengerutkan kening. “Dia merebut kekasihku.” Kalimat Kimura kali ini terdengar menyakitkan Mela. Air matanya tak menetes, namun hatinya perih. Gadis yang menjadi tunangan Ardhi adalah kekasihnya. “Aku tak akan pernah memaafkannya…”
Mela menangis dalam hati. “Dia telah membatalkannya… Kimura san tak perlu khawatir lagi…” Jadi ini maksud kedatangannya. Untuk menyayat hatinya.
Kimura menggeleng. Dan melihat gadis itu berjalan menjauh. Dan semakin jauh. Dia juga mendengar kalau gadis itu menangis. Kimura tak ingin melihat Mela menangis lagi seperti ketika dia hampir menabraknya beberapa bulan lalu. “Mela san…” Gadis itu berhenti. “Aku tak mau dia melakukan itu lagi terhadapku. Aku tak mau kehilanganmu juga. Aishiteimasu…”
Bodoh. Kenapa Mela berpikir kalau baru saja Kimura menyatakan cinta. Ini seperti mimpi yang terbang terlalu tinggi. Mela tak ingin jatuh dan kesakitan.
“Aku cinta kamu…” Ujar Kimura meyakinkan.
Itu adalah kalimat terindah yang pernah didengarnya.
“Are you okey?” Seseorang menurunkan kaca mobil. Hampir saja karena kecerobohan Mela, pria asing yang berbicara dengan aksen aneh itu akan masuk penjara. Atau supirnya? Tapi dia malah membanting pintu dan mengkhawatirkan kondisi Mela yang tak sedikitpun tersentuh mobil. Mela menggeleng. Heran dengan pria ajaib yang tak memaki karena jalannya sudah terganggu.
“Arigatou gozaimasu. Konnichiwa…(Terima kasih banyak. Selamat siang…)” Mela membungkuk ke puluhan lawan bicaranya. Dia seorang Interpreter bahasa Jepang. Karenanya tak heran jika para orang-orang Jepang menyukainya. Termasuk Mr. Kimura yang baru dilihatnya hari ini, namun terasa familiar di penglihatannya. Tapi dimana? Mela tersenyum kearahnya sambil mengucapkan kalimat panjang yang tak di mengerti peserta meeting dan mulai membenahi agenda yang berserakan di meja. Setelah membungkuk, dia berpamitan dengan Mr. Kimura yang sepertinya enggan membiarkan gadis itu pergi. Namun, dia tak bisa berbuat apa-apa.
Mela merasa puas dengan apa yang dikerjakannya hari ini, membantu menerjemahkan apa yang dikatakan Mr. Kimura yang berkewarganegaraan Jepang. Perusahaan tempat Mela bekerja merupakan perusahaan yang sahamnya mayoritas dimiliki oleh negeri sakura itu.
Lelah seharian bekerja tak menyurutkan niat Mela untuk menyempatkan mampir di restoran langganannya. Ardhi dulu sering membawanya ke tempat ini. Namun, itu semua berakhir sejak Ardhi memutuskan untuk bertunangan dengan wanita lain. Enam bulan lalu. Lagipula dia merasa tak punya hak untuk memaksakan perasaan Ardhi untuk dapat menyukainya, apalagi memaksakan keyakinan yang berbeda. Dia akhirnya mengerti mengapa para selebritis harus kabur ke luar negeri hanya untuk melangsungkan pernikahan.
“Boleh saya duduk disini?” Seseorang yang membuyarkan lamunannya dengan bahasa Indonesia yang resmi namun terbata. Seolah untuk mengatakan kalimat pendek itu dia berpikir dengan susah payah. Disini memang Mela sering mendapat sapaan resmi dari para pengunjung, namun ketika dia membalasnya dengan bahasa Jepang fasih mereka akan tersenyum senang. Bangga karena menemukan orang Indonesia yang menguasai bahasanya.
Mela menoleh dan tersenyum. Lalu mengangguk. Dia tak membungkuk seperti yang biasa dilakukannya ketika di kantor, mengangguk sudah cukup bagi orang Indonesia. Batinnya.
Mela senang karena ternyata Mr. Kimura bisa memperlakukannya sebagai teman ketika diluar kantor. Mereka sepakat untuk menggunakan bahasa Jepang saja ketika mengobrol. Kimura tak pandai berbahasa Indonesia.
Mela bekerja sama dengan banyak orang Jepang setiap harinya, tapi dia tak pernah mendapat perlakuan spesial ketika terpaksa menumpang di mobil mereka untuk pulang saat jam terlalu larut. Tapi malam ini Mr. Kimura bersedia turun dan membukakan pintu mobil untuknya. Dia gugup. Sedangkan supir Mr. Kimura hanya memperhatikan mereka dari kaca spion.
Mela memelototi mobil Mr. Kimura sampai menghilang di tikungan. Dia tersenyum. Diam-diam memuji ketampanan pria itu. Juga sifat baiknya. Jantungnya berdegup kencang mengingat ketika pria itu membukakan pintu mobil. Dia jatuh cinta. Tak perlu melewati proses yang panjang dan penuh liku seperti apa yang pernah dirasakannya dulu terhadap Ardhi, hanya dalam hitungan detik, ketika dia membukakan pintu mobil, Mela langsung jatuh cinta. Adegan ketika dia turun dari mobil terlihat tak asing, Mela merasa pernah mengalami sebelumnya.
Tapi kemudian dia membekap mulutnya sendiri, menghentikan senyuman penuh cinta yang tergambar jelas di wajah cantik yang terbingkai rambut hitam panjang nan pekat. Dia menunduk sedih. Dulu, Mela tak pernah mengaku menyukai Ardhi. Itu sangat menyiksa. Now, apa dia harus melakukannya lagi? Memendam perasaan itu karena dia tak mau berpindah keyakinan atau sebaliknya, memaksakan keyakinan orang yang disukainya. Lagipula, mengapa Mela sangat percaya diri kalau Mr. Kimura yang cerdas, yang merupakan perwakilan dari kantor pusat kami di Jepang, yang baru pertama kali ditemuinya ini akan menyukai Mela? Seorang Indonesia yang pasti bukan kriterianya. Tubuh Mela tak terlalu tinggi, meski bisa dibilang cukup proporsional. Kulitnya juga tak sepucat dan sebersih orang-orang Jepang.
“Moshimoshi…(Hallo…) Mela san… Anata wa dokoni imasu (Kamu dimana)?” Suara Mr. Kimura diujung ponsel membuat senyum Mela mengembang. Setiap hari, pagi siang malam, pria itu selalu menanyakan keberadaannya, apa yang sedang ia lakukan, Mela sampai bingung mengartikan perhatian itu. Dia harus senang atau sedih karena tak bisa berharap banyak dari hubungan ini.
Mela menyebut restoran langganannya. Dia menenggak Ocha (Teh hijau) dingin sampai tak bersisa, lalu memanggil pelayan untuk mengisi ulang gelasnya. Tubuh Mela panas dan gemetaran setiap kali pria itu menelepon. Dan seingatnya, seharusnya pria itu masih berada di Jepang sampai seminggu kedepan.
Hari dimana dia mengantar Mela pulang adalah hari pembuka jalan bagi Kimura untuk mengajak gadis itu di waktu berikutnya. Beberapa kali meminta Interpreter lain untuk menggantikan tugas Mela demi bisa mengajak gadis itu keluar.
Kening Mela berkerut mendengar sambungan telepon terputus. Dan tiba-tiba saja Kimura sudah berada di hadapannya. Wajahnya kusut. Dan sedikit kurus. Seharusnya banyak makanan lezat yang dapat ditemuinya di Jepang dibanding negara ini.
“Kimura san?” Pekik Mela sambil berdiri terkejut. Gugup. “Tanggal berapa sekarang?” Tanya gadis itu kebingungan lalu meraih kalender di meja. Pengunjung di sekeliling tampak memperhatikannya. “Seharusnya…”
Kimura tersenyum, menghentikan kalimat Mela yang mengambang. Lalu memanggil pelayan dan memesan makanan yang sama dengan apa yang sedang terhidang di meja Mela. Sushi. Dia senang karena makanan khas negaranya menjadi makanan favorit Mela
Mata Mela berkedip-kedip penasaran. Menunggu pria itu mengatakan sesuatu.
Kimura mengedikkan bahu. “I don’t know…” Aksen bahasa inggrisnya terdengar aneh dan lagi-lagi tak asing. Tapi dimana Mela pernah mendengarnya.
Mela sangat senang. Berkali-kali dia mematut gaya di depan cermin. Kimono berwarna merah muda itu sangat pas di tubuhnya. Dia telah satu jam berusaha memahami cara menggunakan pakaian itu. Tak semudah yang dibayangkan. Dia harus memelototi google untuk bisa segera lulus dari ujian ini. Kimura memberikannya sebagai oleh-oleh dan meminta Mela segera mengirimkan foto dirinya yang sedang mengenakan pakaian tersebut. Dengan malu-malu Mela mengambil gambarnya sendiri yang beradu pandang dengannya di cermin.
“Moshimoshi…” Ujarnya riang. Pasti Kimura sudah melihat potret dirinya mengenakan kimono. Mela menatap pipinya yang bersemu merah di cermin.
“Melanie…” Ini bukan dialek Jepang. Kaki Mela lemas. Dia terduduk di tepian tempat tidur. Mengapa dia harus menelepon sekarang? Bukankah seharusnya dia menikah minggu depan? Aku? Kenapa bukan gue?
Sejam setelah Ardhi menghubunginya, Mela segera menuju tempat mereka janjian. Dari awal gadis itu sudah menolak untuk bertemu dengan Ardhi, toh luka itu sudah mulai membaik. Bahkan lebih baik dari apa yang dipikirnya sebelum bertemu Kimura. Tapi, Mela tak bisa menolak ketika mendengar suara Ardhi yang memohon meminta kesediaannya. Pria itu pernah mengisi ruang terdalam dalam hatinya. Dan dia belum yakin kalau nama Ardhi telah benar-benar terhapus.
Mela menepis tangan Ardhi yang hendak menyentuh pipinya ketika menyambut kedatangan Mela. Ada apa dengan Mela? Pria itu tak bersalah. Dia hanya menerima takdirnya. Dijodohkan. “Mel… Please…”
Mela menarik kursi asal. “Sudah hampir setahun menghilang dan tiba-tiba muncul lagi.” Ketus. Entah mengapa Mela tak merasa senang dengan pertemuan ini.
Mela terkejut mendengar Ardhi membatalkan pernikahannya. Ini kabar baik atau kabar buruk? Haruskah dia bersorak? Namun, dia tak berkomentar. “Aku suka sama kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu. Setahun tanpamu benar-benar berat. Aku…” Ardhi terbata. Lalu tersenyum. Matanya berbinar karena akhirnya berani mengakui perasaannya.
Mela menatap Ardhi tak mengerti.
“Bukankah kamu menyukaiku? Kamu menangisi keputusanku saat itu. Kamu kecewa karena aku tak memilihmu. Kamu…”
Kening Mela berkerut. Bukan ini yang sekarang diinginkannya. Kepalanya berputar-putar, rasanya berat, panas dan seperti terbakar. Dan ketika pelayan datang membawakan Ogura, es krim kacang merah kesukaannya, Mela tak mau melewatkannya. Tak menghiraukan Ardhi yang kebingungan, tidak juga perduli siapa yang memesan minuman ini. “Lo temen yang baik. Dan gue dulu sempet suka sama lo. Tapi…” Kalimat Mela menggantung. “Kembalilah ke tunangan lo…”
“Please beri aku kesempatan.”
Mela menghela nafas dan menggeleng. Namun Ardhi masih tidak mau kalah dan terus melancarkan aksinya. Dia terus memaksa bahwa perbedaan itu bisa disatukan. Tak tahu kenapa, Mela jadi kesal dengannya. Dia yang Mela kenal dulu bukan orang yang seperti itu, tapi kenapa sekarang dia menyebalkan. Memaksakan kehendaknya sendiri. “Kita menikah di luar negeri!”
Mela terkejut. Dia menelan ludah. Mela benar-benar merasa menjadi salah satu selebritis Indonesia yang akan menelurkan sensasi dan akan segera menjadi tokoh utama dalam gosip teman-teman kantor. Ini tidak masuk akal. Bagaimana caranya mengatakan bahwa dia sudah tak menyukai Ardhi.
Brukkkk!!! Ketika bunyi itu bergemuruh, saat itu juga Mela melihat Ardhi telah tersungkur di lantai restoran. Kursi yang didudukinya tak kalah menyedihkan. Sudut bibirnya berdarah, dan dia mengerang kesakitan.
“Kamu tidak boleh mengambilnya.” Mela menoleh. Kimura ada di sebelahnya, tangannya mengepal dengan nafas tersengal. “Aku tak akan mengijinkanmu!” Tatapnya penuh ancaman pada Ardhi. Mereka sukses jadi penghibur para pengunjung hari ini. “Ayo…!” Kimura menyeret gadis itu setelah meninggalkan beberapa lembar uang bernilai tinggi di meja.
Sepanjang perjalanan Mela terdiam, tak jauh beda dengan Kimura. Pria itu mendadak dingin. Mela ketakutan semobil dengannya. Pria ini tak seperti pria biasanya, yang setiap bertemu Mela akan terlihat riang. Dia duduk di sebelah supir, dan Mela duduk di kursi belakang. Dia bisa melihat wajah Kimura yang tegang dari kaca spion.
Hari masih pagi ketika ketukan pintu apartement terdengar nyaring di telinga Mela. Wajahnya pucat, matanya sembab. Beruntung karena hari minggu, dia tak perlu repot-repot memikirkan apa yang akan dipikirkan orang dengan tampilan itu. Mela segera berlari ke pintu dan tak ingin menebak siapa yang ada dibaliknya. Mela terbengong. Dan segera mendorong pria itu menjauh, lalu berjalan tergesa keluar gedung. Angin pagi terasa menusuk tulang sumsum. Kimura mengikutinya dari belakang.
“Gomen’ nasai…(aku minta maaf)” Ujarnya menghentikan langkah Mela. Gadis itu berbalik dan mengerutkan kening. “Dia merebut kekasihku.” Kalimat Kimura kali ini terdengar menyakitkan Mela. Air matanya tak menetes, namun hatinya perih. Gadis yang menjadi tunangan Ardhi adalah kekasihnya. “Aku tak akan pernah memaafkannya…”
Mela menangis dalam hati. “Dia telah membatalkannya… Kimura san tak perlu khawatir lagi…” Jadi ini maksud kedatangannya. Untuk menyayat hatinya.
Kimura menggeleng. Dan melihat gadis itu berjalan menjauh. Dan semakin jauh. Dia juga mendengar kalau gadis itu menangis. Kimura tak ingin melihat Mela menangis lagi seperti ketika dia hampir menabraknya beberapa bulan lalu. “Mela san…” Gadis itu berhenti. “Aku tak mau dia melakukan itu lagi terhadapku. Aku tak mau kehilanganmu juga. Aishiteimasu…”
Bodoh. Kenapa Mela berpikir kalau baru saja Kimura menyatakan cinta. Ini seperti mimpi yang terbang terlalu tinggi. Mela tak ingin jatuh dan kesakitan.
“Aku cinta kamu…” Ujar Kimura meyakinkan.
Itu adalah kalimat terindah yang pernah didengarnya.
Wednesday, April 16, 2014
THE SECRET ADMIRER
Aku mendapat surat itu lagi. Entah darimana datangnya dan siapa pengirimnya. Yang aku tahu bahwa benda itu sudah berada di laci meja di waktu yang bersamaan untuk tiga hari berturut-turut. Mungkin pengirimnya terlalu terobsesi padaku namun terlalu pengecut untuk bersikap gentle dan berani terang-terangan mengungkapkan perasaannya. Hm… Apa enaknya menyembunyikan perasaan? Kemarin lusa memuji kuncir ekor kudaku yang katanya menggemaskan, kemarin bilang bahwa aku cocok menggunakan bandana pink, dan hari ini dia sudah membuatku melayang dengan pujiannya yang selangit mengenai poni baruku yang kupotong sendiri dengan asal. Aku berencana mengepang penuh rambutku esok—dia akan memuji atau akan mengomentari dandananku yang kuno? Just wait and see.
Akhirnya petualanganku mencari bukti-bukti mulai berjalan. Dengan teliti aku memelototi satu persatu setumpuk buku tugas yang Pak Dahlan, guru sejarah, minta untuk kumpulkan. Aku hanya perlu mencocokkan karakter tulisan di sampul buku dan surat-surat itu. Mudah-mudahan ada petunjuk sehingga aku tak akan mati penasaran. Ternyata ini manfaatku ditempatkan sebagai sekretaris di kelas. Sungguh beruntung…
“Elena…”
Aku menoleh dan menjatuhkan salah satu buku dari tangan. Terlalu terkejut dengan panggilan itu. Dengan kikuk aku mencari-cari alasan untuk mengelabuhi Pak Dahlan yang memandang sarat kecurigaan. Pria itu berjongkok untuk membantu mengambil dan menyatukan kembali buku itu ke posisi teratas.
“Terima kasih.” Kataku tulus. “Saya ingin membawanya ke ruangan Bapak.” Awalnya Pak Dahlan ragu, namun akhirnya dia luluh juga meskipun mengomel mengapa aku tak meminta bantuin murid-murid laki-laki dan malah mengerjakannya sendiri. Misiku gagal…
Hari keempat. Tuh kan, apa kubilang... Surat itu datang lagi—sebuah pujian disertai kritikan yang lagi-lagi membuatku melayang. “Kepang dua? Kuno bangettt… Tapi kalau itu Elena sih semuanya jadi WOW!!!… You look so beautiful… Always…” Kalimat itu bahkan diakhiri dengan gambar sebuah karakter wajah yang kedua bola matanya mengeluarkan simbol cinta berwarna merah hati. Yaampun… Ini orang pasti cinta mati sama aku. Dengan gusar mataku menyapu sekeliling, berharap ada satu orang saja yang mencurigakan sehingga aku tak perlu menebak-nebak lagi dan langsung menandai bahwa dialah pelakunya. Inilah kerugiannya jika kita tak punya teman sebangku, tak ada sahabat dekat yang bisa merangkap jadi mata-mata. Maklum… Ini adalah SMA terfavorit sepanjang masa. Ibarat kata, biarpun harus merelakan uang jajan setiap hari, aku rela asalkan bisa mendapat satu tempat saja di sekolah ini. Kembali aku menyisiri dua puluh bangku kosong yang tertata rapi—seluruh penghuninya sedang asik menjelajahi dunia maya di ruang komputer sudut sekolah. Aku hanya perlu mengambil sebuah buku catatan yang tertinggal karena buru-buru tadi.
Tanpa perduli lagi aku membiarkan kakiku berjalan menyusuri koridor sekolah dan melewati sederet kelas yang sibuk. Dan ketika aku kebetulan menoleh ke salah satu ruangan dimana ada sosok Pak Dahlan menjulang di bibir pintu, dia tersenyum ramah—kelewat ramah sampai-sampai aku punya pikiran buruk tentangnya. Bagaimana mungkin aku menebak bahwa pria berwajah bersih itulah pelakunya? Memang sih dia ”terkesan” lebih memperhatikanku dibanding murid lain. Tapi... Tidak mungkin! Pasti aku terlalu percaya diri. Aku balas tersenyum dan berlalu secepat mungkin dari pandangannya.
Sepulang sekolah tak henti-hentinya aku memikirkan kejadian aneh ini. Siapa yang berani berbuat tak berani tanggung jawab? Kembali wajah Pak Dahlan memenuhi pelupuk mata—menguasai seluruh ruang pikirku. Tak salah jika dia menyukaiku, aku tak menyalahkannya juga.
Single—check(√). Mapan—check(√). Ganteng—check(√). Kaya—check(√).
Aneh. Kriteria orang seperti Pak Dahlan harus terdampar, menghabiskan sisa umurnya di kelas dan bukannya menjadi obyek sampul majalah. Nama Pak Dahlan bahkan jauh lebih terkenal dibanding cowok paling TOP di sekolah ini. Tapi… Apa aku harus menerima perasaan guruku? Aku hanya seorang siswi berumur enam belas tahun yang masih harus melewati ujian kelulusan dua tahun lagi. Masih jauh jika harus terjerat kisah cinta yang serius dengan pria berumur. Haishhhh… Memikirkan seorang pengagum rahasia rasanya menyenangkan, tapi ketika mengingat kandidatnya rasanya menjengkelkan! Aku bukan penggemar Pak Dahlan seperti cewek-cewek itu yang berani malu dengan meneriaki namanya bak artis Korea. “Bukan gue bangettttttt…” Amit-amit jabang bayi tujuh turunan jangan sampai kejadian.
Pagi-pagi sekali aku sudah tiba di sekolah. Pertama menghindari kemacetan Jakarta dan yang kedua ingin melihat wajah fresh Randy ketika pagi hari. Cowok itu tak terlalu tampan, memiliki tubuh yang tak atletis dan juga bukan juara kelas. Tapi setiap melihatnya hatiku berdebar. Darahku berdesir. Tubuhku gemetaran. Dan menurut artikel yang pernah aku baca, bahwa gejala-gejala inilah yang dinamakan cinta. It’s all about love. Aku berharap bahwa Randy lah pelaku kejadian-kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini. Bukan Pak Dahlan atau orang lain. Tapi jika diamati dari gerak geriknya, aku bahkan tidak berani bertaruh bahwa dia pernah mendengar ataupun mengenal ada seorang gadis bernama Elena di sekolah ini.
“Hei… Ada yang bisa gue bantu?”
Aku sungguh terkejut, tak menyangka dia menyadari keberadaanku. Pasti karena aku terbengong dan tanpa sadar berjalan terlalu dekat ke kelasnya yang masih satu lorong dengan kelasku. Seperti biasa dia sedang asik mengobrol dengan teman-teman sekelasnya dari kelas XI. “Eh… Kak… Anu… Ehm, lagi nyari orang tapi kayaknya bukan di kelas ini deh…” Ujarku ngawur. Semoga dia termakan omonganku. Amin…
Randy manggut-manggut sambil mengerutkan kening. Aku memanfaatkan detik berikutnya untuk kabur dan ingin segera menghilang dibalik pintu kelas. Tapi sungguh—aku tak pernah bermimpi dia akan memanggil namaku apalagi memuji penampilanku.
“Lena!!!” Panggilnya terasa aneh—namun tak terlalu buruk. Elena, biasanya semua orang menyebut namaku, tapi Lena? It’s ok. Aku berhenti dan membalikkan badan. Dia berlari kearahku dan “Rambut kamu lucu banget…” Ujarnya sambil tersenyum dan memainkan ujung kuncir ekor kudaku. Tubuhku melemas. Mimpi apa aku semalam…???
“Bengong, tertawa, manyun… Kamu tetap cantik!” Oh My Goooooooodddddd!!! Surat kaleng itu bahkan tiba lebih cepat dibanding waktu kedatanganku. Tergeletak sempurna di laci dengan amplop biru terang. Warna kesukaanku. Aku membacanya mual—berharap ini semua akan segera berakhir. Kembali aku menyapu pandangan ke sekeliling ruangan yang seperti biasanya—tak seorangpun. Dan biarpun tadi aku terbengong didepan Randy, aku yakin pelakunya bukan dia. Benda itu sukses membuatku gelisah. Galau.
Mama dan Papa pernah menceritakan asal muasal bagaimana cara mereka saling mengungkapkan perasaan, bertukar pujian satu sama lain, maupun saling janjian bertemu muka. Dulu. Itu semua dilakukan dengan surat. Tapi bukan surat tanpa alamat seperti yang aku terima sekarang, dan kenapa sih harus surat? Kenapa tidak telepon atau sms saja? Romantis sebenarnya, kalau saja itu Randy yang mengirimkan. Tapi ini… Siapa kurirnya saja belum diketahui, bagaimana cara mencari penulisnya? Sungguh melelahkan.
Dengan kesal aku melempar tas dan membanting pintu membuat seisi rumah bergetar. Aku bisa menebak jelas apa yang akan terjadi berikutnya. “Elenaaaaaaaaa!!!” Tuh, benar kan? Pasti dalam hitungan ketiga wanita itu sudah sampai di depan kamar dan melotot memprotes kelakuan anak gadisnya. “Kamu ini! Kebiasaan! Apa kamu berencana menghancurkan rumah ini dan membuat keluarga kita tinggal di kolong jembatan?”
Dengan kikuk aku memamerkan sederet gigi putihku yang rapi dan terawat. Tak menjawab apapun karena itu berarti akan memancing emosi Mama berikutnya. Terkadang diam itu lebih baik daripada dibanding bicara hal yang tak berguna.
Sebulan sudah berlalu sejak kejadian itu. Kejadian dimana Randy “ternyata” mengetahui namaku. Sungguh senang rasanya mengingat hal ini. Sejak saat itu, di hari berikutnya dia selalu menyapaku lebih dulu. Tak lupa dia memuji penampilanku setiap kali kami berpapasan dan tak ada saksi mata. Benar-benar susah ditebak. Bagaimana sebenarnya perasaannya?
Aku memasuki kelas sambil menenteng kamus bahasa inggris yang jika dimasukkan tas bisa membuat tinggiku semakin menurun. Dan seperti biasa, aku penasaran dengan isi laciku dari hari ke hari. Ya, meskipun kesal karena tak juga bisa menebak—tapi harus kuakui bahwa itu sudah menjadi salah satu alasanku untuk datang ke sekolah lebih pagi. Candu.
Tapi sungguh—jauh di lubuk hatiku aku sangat berharap bahwa itu Randy. Dialah yang mengirimkan surat-surat itu selama ini. Dialah yang jadi pengagum rahasiaku. Apa mungkin?
“Hai cewek rajin… Pasti hari ini kamu membawa benda berat yang menyebalkan itu… Cemunguuuuth” Aku menepok jidat. Tersenyum mendengar kata rajin dan mendadak migrain mendengar kata terakhir. Aku memang terlahir sebagai anak moderen, gaul, dan smart! Kata teman-teman. Tapi kata itu? OMG!!! Mau dibawa kemana negara ini kalau bahasa yang digunakan sekarang makin ngawur dan tak terarah. Bagaimana EYD kita perlahan-lahan memudar? Mereka semua harus segera disadarkan.
Pak Dahlan memasuki ruang kelas dan langsung menghipnotis seisi ruangan dengan ceritanya mengenai kehidupan manusia purba yang hidup nomaden. Aku langsung merasa sedang bermain film The vampire diaries. Aku sebagai Elena, dan dia—Alaric. Guru sejarah yang mempunyai kekuatan gaib hanya karena sebuah cincin. Dia memang orang yang pandai bercerita, tapi—Ya Tuhan… Dia sungguh tak cocok menjadi seorang guru, seharusnya dia berjalan di catwalk dengan pakaian modis dan bukannya memakai seragam membosankan itu.
Tak lama kemudian dia selesai bercerita dan membuat dua puluh pasang mata kecewa karena ternyata di akhir ceritanya lahir sebuah tugas. Aku tersenyum. Inilah kehidupan di sekolah. Selalu saja terbuai dengan cerita dan ujung-ujungnya malas mengerjakan tugas.
“Pak, bisa nggak sih sekali-sekali kami diberi kebebasan…” Ujar salah seorang dari kami. Aku mengangguk menyetujui tak jauh beda dengan yang lain. Laki-laki itu langsung menyetujui pendapat itu. “Ciyus???” Aihhhhh kata-kata itu lagi. Seluruh isi ruangan bersorak.
“Setelah jam pelajaran saya selesai…” Sontak mereka semua ber-huuuuu ria dan saling melempar kalimat-kalimat asal yang bisa membuat telinga panas ataupun membuat senyum Pak Dahlan terkembang. Pak Dahlan memandang kearahku—tersenyum. Oh Nooooooo!!!
Dan pagi ini misiku tak boleh gagal. Aku sudah meminta Mama untuk membangunkanku lebih pagi sehingga aku pasti akan menangkap basah si kurir pagi-pagi. Aku akan mendapatkan jawaban hari ini. So, let’s go!
Kakiku melangkah ringan—tapi hatiku terasa berat. Aku sungguh takut menghadapi kenyataan pahit. Pasti bukan Pak Dahlan. Apa orang lain? Jika saja dia Randy…
Dengan gugup aku mengintip ruang kelas. Hanya ada seorang gadis pendiam yang “Gilaaaaa… Culun banget…” Namanya Rasti—dan dia adalah murid paling kuno yang pernah aku temui di belahan bumi Indonesia. Sifatnya yang tertutup membuat seisi ruangan ogah berdekatan dengannya, hanya jika ketiban sial mereka mau menerima kehadirannya sebagai anggota kelompok dalam diskusi. Beruntung karena meja kami agak jauh sehingga kemungkinan aku berada satu kelompok dengannya sangat kecil. Syukurlah…
Tapi tunggu! Apa yang sedang dia lakukan? Mataku terus mengikuti gerak-geriknya. Dan sumpah… Berani kaya mendadak! Berani ditembak cowok ganteng! Dia menuju ke mejaku dan membawa sebuah—amplop! Jadi dia kurirnya? “Rasti!” Suratnya terjatuh. “Lo ngapain dimeja gue? Itu… Surat itu… Siapa sebenernya yang nulis?” Gadis itu menunduk. Ketakutan. Mungkin aku terlalu kasar menegurnya. Seharusnya aku bisa bersikap lebih baik—tapi, aku sudah tak sabar mengintrogasinya. Dalam hitungan detik saja aku sudah menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Tapi tak satupun kata keluar dari mulutnya. Membuat aku gemas dan serasa ingin melahapnya. “Lo nggak mau jawab pertanyaan gue?”
Dia menggeleng pelan tak berani menatapku yang sudah bertolak pinggang. Aku merasa menjadi orang yang paling kejam di dunia saat ini.
“Gue..”
Gendang telingaku seolah pecah. Aku memang pernah mendengar bahwa dia adalah seorang lesbian, tapi aku tak pernah menyangka bahwa orang yang dia sukai adalah aku. Tubuhku melemas. Wajah Pak Dahlan melintas—pria itu lebih baik dibanding Rasti. Dan Randy—ternyata cowok itu berada terlalu jauh didepanku. Aku menangis… Ini adalah berita paling buruk selama hidupku.
Akhirnya petualanganku mencari bukti-bukti mulai berjalan. Dengan teliti aku memelototi satu persatu setumpuk buku tugas yang Pak Dahlan, guru sejarah, minta untuk kumpulkan. Aku hanya perlu mencocokkan karakter tulisan di sampul buku dan surat-surat itu. Mudah-mudahan ada petunjuk sehingga aku tak akan mati penasaran. Ternyata ini manfaatku ditempatkan sebagai sekretaris di kelas. Sungguh beruntung…
“Elena…”
Aku menoleh dan menjatuhkan salah satu buku dari tangan. Terlalu terkejut dengan panggilan itu. Dengan kikuk aku mencari-cari alasan untuk mengelabuhi Pak Dahlan yang memandang sarat kecurigaan. Pria itu berjongkok untuk membantu mengambil dan menyatukan kembali buku itu ke posisi teratas.
“Terima kasih.” Kataku tulus. “Saya ingin membawanya ke ruangan Bapak.” Awalnya Pak Dahlan ragu, namun akhirnya dia luluh juga meskipun mengomel mengapa aku tak meminta bantuin murid-murid laki-laki dan malah mengerjakannya sendiri. Misiku gagal…
Hari keempat. Tuh kan, apa kubilang... Surat itu datang lagi—sebuah pujian disertai kritikan yang lagi-lagi membuatku melayang. “Kepang dua? Kuno bangettt… Tapi kalau itu Elena sih semuanya jadi WOW!!!… You look so beautiful… Always…” Kalimat itu bahkan diakhiri dengan gambar sebuah karakter wajah yang kedua bola matanya mengeluarkan simbol cinta berwarna merah hati. Yaampun… Ini orang pasti cinta mati sama aku. Dengan gusar mataku menyapu sekeliling, berharap ada satu orang saja yang mencurigakan sehingga aku tak perlu menebak-nebak lagi dan langsung menandai bahwa dialah pelakunya. Inilah kerugiannya jika kita tak punya teman sebangku, tak ada sahabat dekat yang bisa merangkap jadi mata-mata. Maklum… Ini adalah SMA terfavorit sepanjang masa. Ibarat kata, biarpun harus merelakan uang jajan setiap hari, aku rela asalkan bisa mendapat satu tempat saja di sekolah ini. Kembali aku menyisiri dua puluh bangku kosong yang tertata rapi—seluruh penghuninya sedang asik menjelajahi dunia maya di ruang komputer sudut sekolah. Aku hanya perlu mengambil sebuah buku catatan yang tertinggal karena buru-buru tadi.
Tanpa perduli lagi aku membiarkan kakiku berjalan menyusuri koridor sekolah dan melewati sederet kelas yang sibuk. Dan ketika aku kebetulan menoleh ke salah satu ruangan dimana ada sosok Pak Dahlan menjulang di bibir pintu, dia tersenyum ramah—kelewat ramah sampai-sampai aku punya pikiran buruk tentangnya. Bagaimana mungkin aku menebak bahwa pria berwajah bersih itulah pelakunya? Memang sih dia ”terkesan” lebih memperhatikanku dibanding murid lain. Tapi... Tidak mungkin! Pasti aku terlalu percaya diri. Aku balas tersenyum dan berlalu secepat mungkin dari pandangannya.
Sepulang sekolah tak henti-hentinya aku memikirkan kejadian aneh ini. Siapa yang berani berbuat tak berani tanggung jawab? Kembali wajah Pak Dahlan memenuhi pelupuk mata—menguasai seluruh ruang pikirku. Tak salah jika dia menyukaiku, aku tak menyalahkannya juga.
Single—check(√). Mapan—check(√). Ganteng—check(√). Kaya—check(√).
Aneh. Kriteria orang seperti Pak Dahlan harus terdampar, menghabiskan sisa umurnya di kelas dan bukannya menjadi obyek sampul majalah. Nama Pak Dahlan bahkan jauh lebih terkenal dibanding cowok paling TOP di sekolah ini. Tapi… Apa aku harus menerima perasaan guruku? Aku hanya seorang siswi berumur enam belas tahun yang masih harus melewati ujian kelulusan dua tahun lagi. Masih jauh jika harus terjerat kisah cinta yang serius dengan pria berumur. Haishhhh… Memikirkan seorang pengagum rahasia rasanya menyenangkan, tapi ketika mengingat kandidatnya rasanya menjengkelkan! Aku bukan penggemar Pak Dahlan seperti cewek-cewek itu yang berani malu dengan meneriaki namanya bak artis Korea. “Bukan gue bangettttttt…” Amit-amit jabang bayi tujuh turunan jangan sampai kejadian.
Pagi-pagi sekali aku sudah tiba di sekolah. Pertama menghindari kemacetan Jakarta dan yang kedua ingin melihat wajah fresh Randy ketika pagi hari. Cowok itu tak terlalu tampan, memiliki tubuh yang tak atletis dan juga bukan juara kelas. Tapi setiap melihatnya hatiku berdebar. Darahku berdesir. Tubuhku gemetaran. Dan menurut artikel yang pernah aku baca, bahwa gejala-gejala inilah yang dinamakan cinta. It’s all about love. Aku berharap bahwa Randy lah pelaku kejadian-kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini. Bukan Pak Dahlan atau orang lain. Tapi jika diamati dari gerak geriknya, aku bahkan tidak berani bertaruh bahwa dia pernah mendengar ataupun mengenal ada seorang gadis bernama Elena di sekolah ini.
“Hei… Ada yang bisa gue bantu?”
Aku sungguh terkejut, tak menyangka dia menyadari keberadaanku. Pasti karena aku terbengong dan tanpa sadar berjalan terlalu dekat ke kelasnya yang masih satu lorong dengan kelasku. Seperti biasa dia sedang asik mengobrol dengan teman-teman sekelasnya dari kelas XI. “Eh… Kak… Anu… Ehm, lagi nyari orang tapi kayaknya bukan di kelas ini deh…” Ujarku ngawur. Semoga dia termakan omonganku. Amin…
Randy manggut-manggut sambil mengerutkan kening. Aku memanfaatkan detik berikutnya untuk kabur dan ingin segera menghilang dibalik pintu kelas. Tapi sungguh—aku tak pernah bermimpi dia akan memanggil namaku apalagi memuji penampilanku.
“Lena!!!” Panggilnya terasa aneh—namun tak terlalu buruk. Elena, biasanya semua orang menyebut namaku, tapi Lena? It’s ok. Aku berhenti dan membalikkan badan. Dia berlari kearahku dan “Rambut kamu lucu banget…” Ujarnya sambil tersenyum dan memainkan ujung kuncir ekor kudaku. Tubuhku melemas. Mimpi apa aku semalam…???
“Bengong, tertawa, manyun… Kamu tetap cantik!” Oh My Goooooooodddddd!!! Surat kaleng itu bahkan tiba lebih cepat dibanding waktu kedatanganku. Tergeletak sempurna di laci dengan amplop biru terang. Warna kesukaanku. Aku membacanya mual—berharap ini semua akan segera berakhir. Kembali aku menyapu pandangan ke sekeliling ruangan yang seperti biasanya—tak seorangpun. Dan biarpun tadi aku terbengong didepan Randy, aku yakin pelakunya bukan dia. Benda itu sukses membuatku gelisah. Galau.
Mama dan Papa pernah menceritakan asal muasal bagaimana cara mereka saling mengungkapkan perasaan, bertukar pujian satu sama lain, maupun saling janjian bertemu muka. Dulu. Itu semua dilakukan dengan surat. Tapi bukan surat tanpa alamat seperti yang aku terima sekarang, dan kenapa sih harus surat? Kenapa tidak telepon atau sms saja? Romantis sebenarnya, kalau saja itu Randy yang mengirimkan. Tapi ini… Siapa kurirnya saja belum diketahui, bagaimana cara mencari penulisnya? Sungguh melelahkan.
Dengan kesal aku melempar tas dan membanting pintu membuat seisi rumah bergetar. Aku bisa menebak jelas apa yang akan terjadi berikutnya. “Elenaaaaaaaaa!!!” Tuh, benar kan? Pasti dalam hitungan ketiga wanita itu sudah sampai di depan kamar dan melotot memprotes kelakuan anak gadisnya. “Kamu ini! Kebiasaan! Apa kamu berencana menghancurkan rumah ini dan membuat keluarga kita tinggal di kolong jembatan?”
Dengan kikuk aku memamerkan sederet gigi putihku yang rapi dan terawat. Tak menjawab apapun karena itu berarti akan memancing emosi Mama berikutnya. Terkadang diam itu lebih baik daripada dibanding bicara hal yang tak berguna.
Sebulan sudah berlalu sejak kejadian itu. Kejadian dimana Randy “ternyata” mengetahui namaku. Sungguh senang rasanya mengingat hal ini. Sejak saat itu, di hari berikutnya dia selalu menyapaku lebih dulu. Tak lupa dia memuji penampilanku setiap kali kami berpapasan dan tak ada saksi mata. Benar-benar susah ditebak. Bagaimana sebenarnya perasaannya?
Aku memasuki kelas sambil menenteng kamus bahasa inggris yang jika dimasukkan tas bisa membuat tinggiku semakin menurun. Dan seperti biasa, aku penasaran dengan isi laciku dari hari ke hari. Ya, meskipun kesal karena tak juga bisa menebak—tapi harus kuakui bahwa itu sudah menjadi salah satu alasanku untuk datang ke sekolah lebih pagi. Candu.
Tapi sungguh—jauh di lubuk hatiku aku sangat berharap bahwa itu Randy. Dialah yang mengirimkan surat-surat itu selama ini. Dialah yang jadi pengagum rahasiaku. Apa mungkin?
“Hai cewek rajin… Pasti hari ini kamu membawa benda berat yang menyebalkan itu… Cemunguuuuth” Aku menepok jidat. Tersenyum mendengar kata rajin dan mendadak migrain mendengar kata terakhir. Aku memang terlahir sebagai anak moderen, gaul, dan smart! Kata teman-teman. Tapi kata itu? OMG!!! Mau dibawa kemana negara ini kalau bahasa yang digunakan sekarang makin ngawur dan tak terarah. Bagaimana EYD kita perlahan-lahan memudar? Mereka semua harus segera disadarkan.
Pak Dahlan memasuki ruang kelas dan langsung menghipnotis seisi ruangan dengan ceritanya mengenai kehidupan manusia purba yang hidup nomaden. Aku langsung merasa sedang bermain film The vampire diaries. Aku sebagai Elena, dan dia—Alaric. Guru sejarah yang mempunyai kekuatan gaib hanya karena sebuah cincin. Dia memang orang yang pandai bercerita, tapi—Ya Tuhan… Dia sungguh tak cocok menjadi seorang guru, seharusnya dia berjalan di catwalk dengan pakaian modis dan bukannya memakai seragam membosankan itu.
Tak lama kemudian dia selesai bercerita dan membuat dua puluh pasang mata kecewa karena ternyata di akhir ceritanya lahir sebuah tugas. Aku tersenyum. Inilah kehidupan di sekolah. Selalu saja terbuai dengan cerita dan ujung-ujungnya malas mengerjakan tugas.
“Pak, bisa nggak sih sekali-sekali kami diberi kebebasan…” Ujar salah seorang dari kami. Aku mengangguk menyetujui tak jauh beda dengan yang lain. Laki-laki itu langsung menyetujui pendapat itu. “Ciyus???” Aihhhhh kata-kata itu lagi. Seluruh isi ruangan bersorak.
“Setelah jam pelajaran saya selesai…” Sontak mereka semua ber-huuuuu ria dan saling melempar kalimat-kalimat asal yang bisa membuat telinga panas ataupun membuat senyum Pak Dahlan terkembang. Pak Dahlan memandang kearahku—tersenyum. Oh Nooooooo!!!
Dan pagi ini misiku tak boleh gagal. Aku sudah meminta Mama untuk membangunkanku lebih pagi sehingga aku pasti akan menangkap basah si kurir pagi-pagi. Aku akan mendapatkan jawaban hari ini. So, let’s go!
Kakiku melangkah ringan—tapi hatiku terasa berat. Aku sungguh takut menghadapi kenyataan pahit. Pasti bukan Pak Dahlan. Apa orang lain? Jika saja dia Randy…
Dengan gugup aku mengintip ruang kelas. Hanya ada seorang gadis pendiam yang “Gilaaaaa… Culun banget…” Namanya Rasti—dan dia adalah murid paling kuno yang pernah aku temui di belahan bumi Indonesia. Sifatnya yang tertutup membuat seisi ruangan ogah berdekatan dengannya, hanya jika ketiban sial mereka mau menerima kehadirannya sebagai anggota kelompok dalam diskusi. Beruntung karena meja kami agak jauh sehingga kemungkinan aku berada satu kelompok dengannya sangat kecil. Syukurlah…
Tapi tunggu! Apa yang sedang dia lakukan? Mataku terus mengikuti gerak-geriknya. Dan sumpah… Berani kaya mendadak! Berani ditembak cowok ganteng! Dia menuju ke mejaku dan membawa sebuah—amplop! Jadi dia kurirnya? “Rasti!” Suratnya terjatuh. “Lo ngapain dimeja gue? Itu… Surat itu… Siapa sebenernya yang nulis?” Gadis itu menunduk. Ketakutan. Mungkin aku terlalu kasar menegurnya. Seharusnya aku bisa bersikap lebih baik—tapi, aku sudah tak sabar mengintrogasinya. Dalam hitungan detik saja aku sudah menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Tapi tak satupun kata keluar dari mulutnya. Membuat aku gemas dan serasa ingin melahapnya. “Lo nggak mau jawab pertanyaan gue?”
Dia menggeleng pelan tak berani menatapku yang sudah bertolak pinggang. Aku merasa menjadi orang yang paling kejam di dunia saat ini.
“Gue..”
Gendang telingaku seolah pecah. Aku memang pernah mendengar bahwa dia adalah seorang lesbian, tapi aku tak pernah menyangka bahwa orang yang dia sukai adalah aku. Tubuhku melemas. Wajah Pak Dahlan melintas—pria itu lebih baik dibanding Rasti. Dan Randy—ternyata cowok itu berada terlalu jauh didepanku. Aku menangis… Ini adalah berita paling buruk selama hidupku.
Friday, April 4, 2014
HIDUP TAK SEINDAH MIMPI
Aku tersenyum dan membuang nafas lega seraya menyambut kedatangannya dari balik kepulan hitam yang menelan malam. Tembok Rumah sakit itu bahkan tak mampu mempertahankan keputihan warnanya di jam selarut ini. Pukul sembilan lewat dua menit. Hanya selang waktu tiga puluh menit semenjak aku menelepon dan memintanya menjemput. Wajahnya tak secerah biasanya. Mungkin karena malam, sehingga terlihat pucat. Lama kuamati wajah itu—dekat—dan semakin terlihat. Senyumnya terkesan dipaksakan. Tapi aku tahu kalau itu tulus. Dia selalu tulus terhadapku.
“Nunggu lama?” Tanyanya hati-hati dengan mulut tertahan. Sepertinya kondisinya tak terlalu sehat. Bibirnya mengering dan pucat. Aku menatapnya khawatir. Selalu saja dia menomorduakan kesehatannya demi aku. Menyesal telah memintanya datang. “Ayo…” Ajaknya menggandeng tanganku. Hangat merayap, mengalir, menyerap dingin yang menggerogoti telapak tangan. Kami menembus hitam, membelah angin yang dinginnya membuat sakit gigiku semakin tak terkira.
Selama perjalanan kami tak saling bertukar suara. Hanya sesekali aku menanyakan untuk memastikan keadaannya yang terlihat buruk, namun laki-laki itu selalu menggeleng dan memaksakan senyum. Miris melihat pemandangan ini. Hubungan kami sudah sampai di tahap dimana kami tak bisa disebut “teman” lagi, tapi dia selalu menolak memberikanku kesempatan untuk merawatnya atau sekedar mencemaskan kondisinya ketika keadaannya seperti sekarang. Aku tahu dia punya keluarga yang memperhatikan, tapi apa salah jika aku ingin belajar merawatnya. Menjaganya. Memperlakukannya dengan hal yang sama seperti apa yang telah dia lakukan terhadapku.
Keesokan harinya aku tak melihat Mas Angga dimanapun. Dia datang terlambat atau ada meeting dimana ya? Pikirku kalut. Beberapa teman yang kutanyai malah tertawa mengolok-olok. “Seharusnya kami yang tanya.”
Aku mengenalnya beberapa bulan lalu ketika pertama kali bergabung di perusahaan ini. Dia sangat ramah, baik dan tak ragu-ragu mengajarkanku ilmu yang telah dia dapat. Dia juga tak segan menegur ataupun memberi masukan ketika aku melakukan hal yang salah. Hampir setiap hari dia memberikanku sesuatu, entah itu sebatang cokelat, setangkai mawar, ataupun makanan yang mengundang selera. Dia juga menyeretku ke tempat wisata setiap akhir pekan, memastikanku senang dan tak murung di rumah kontrakan. Akupun tak ragu untuk memintanya mendampingiku di acara-acara pernikahan dan menggandengnya bangga meskipun tak sekalipun dia melibatkanku ketika dia pribadi yang mendapat undangan. Tapi aku sangat menyukainya… Dan—Ibu, pasti sama sukanya denganku.
Aku berusaha menghubungi ponselnya yang tak aktif. Sudah puluhan kali aku mencobanya dan tak membuahkan hasil. Hanya operator yang masih setia menjawab panggilanku. BBM yang kukirim pending. Mungkin masa berlaku paketnya sudah habis. Hiburku namun tetap tak terhibur. Mas Angga membuatku sangat khawatir. Ini adalah pertama kalinya dia menghilang tanpa kabar, membuat hariku terasa menanjak—lebih lama dibanding ketika ada dia yang selalu setia mendampingiku. Kami pasangan yang sangat serasi di kantor. Apapun akan dia lakukan untukku.
“Mas, yaampun… Kemana aja?” Cecarku ketika dia baru menghubungi tengah hari. Sudah hampir gila aku dibuatnya.
Lama dia tak menjawab. Mungkin banyak yang sedang dipikirkannya sehingga dia melamun. Namun ketika mampu bersuara, aku langsung tahu bahwa kondisinya sedah tak baik. Dia bilang sedang tak enak badan sehingga ponselnya dimatikan. Kilatan kejadian semalam menghantui perasaanku. Aku yakin kalau semalam kondisinya benar-benar buruk ketika datang ke Rumah Sakit, tapi dia memaksakannya. Ini membuat rasa bersalahku semakin menjadi. Aku langsung meminta maaf.
Aku sangat khawatir mengenai kondisinya dan ingin segera menemuinya. Tapi dia tak mengijinkanku berkunjung. “Nggak enak sama orang rumah,” ujarnya tadi ketika aku memaksakan datang. Dia bahkan tak mempercayakan alamat rumahnya padaku. Membuatku sedih.
“Mas, nggak masuk lagi?” Ini adalah hari ketiga dia tak datang ke kantor. Aku sudah tak tahan untuk melihat keadaannya. Pasti kondisinya parah. Meskipun dia mengatakan baik-baik saja, tapi aku tidak bisa percaya begitu saja. Aku memaksanya memberikan alamat rumah padaku. “Mas takut kalau aku bakalan bikin kecewa keluarga Mas?” Tanyaku heran bercampur kesal.
“Bukan…” Aku membayangkan Mas Angga menggeleng ketika mengatakan ini. “Ok, kita bertemu di kafe biasa…” Jawabnya membuat mataku terbelalak. Mengapa dia sangat ketakutan ketika aku memaksa datang? Apa keluarganya sangat pemilih mengenai calon bagi putranya? Dan aku belum memenuhi kriteria itu.
Lama aku menunggu—makin malam makin tak nyaman. Duduk sendirian di kafe dalam keadaan larut begini akan menimbulkan fitnah. Bisa saja ada om-om yang tiba-tiba datang dan menawarku. Aku berdiri dan menatap sekeliling. Pengunjung kafe mulai sepi, berbeda ketika aku datang dua jam lalu, hanya untuk memanggil pelayan saja aku harus bersabar. Sekarang, mereka mulai berbenah dan menatapku curiga. Apa aku sebegitu buruknya di hadapan mereka??? “Dimana sih kamu Mas…” Keluhku sambil mencoba menghubungi ponselnya yang lagi-lagi tidak aktif.
Akhirnya aku kembali kerumah dengan perasaan gundah. Khawatir. Apa yang terjadi padanya sekarang? Biasanya aku akan marah dan mengomel panjang lebar ketika dia terlambat datang saat kami janjian bertemu, tapi kali ini aku sangat ingin melihatnya. Aku sangat merindukannya. Rasa kesalku tak sebanding dengan rasa rindu yang aku tahan selama beberapa hari. Aku ingin sekali menjadi orang yang mendampingi Mas Angga ketika kondisinya sakit seperti sekarang. Ketika aku sakit sebulan yang lalu, aku tak tahu harus meminta tolong pada siapa… Aku tak berani menghubungi keluargaku dan mengatakan bahwa putri semata wayangnya ini masuk Rumah Sakit karena typus. Pasti mereka akan mengomeliku karena tak makan dengan baik. Padahal aku hanya kecapekan. Dan Mas Angga—dia datang tanpa aku memintanya. Menjengukku sepulang kantor dan menghabiskan malamnya dengan meringkuk di sofa sebelah tempat tidurku. Bagaimana mungkin aku akan mengabaikan pria sebaik ini? Aku tak ingin kehilangannya.
Tidak ada kompromi. Pagi-pagi sekali aku datang ke kantor dan berharap telingaku menangkap kabar baik. Tapi—nihil. Belum ada kabar apapun yang mampu membunuh cemasku akan kondisi Mas Angga yang entah seperti apa sekarang.
Dengan tergesa aku menuju ruang HRD dan menyesal kenapa aku tak terpikir untuk mendatangi tempat ini sejak Mas Angga menghilang. Apa aku sebegitu paniknya?
“Don, bisa tolong liatin alamat karyawan nggak?” Tanyaku memasang tampang memelas. Biasanya dia tidak akan memberikan alamat karyawan pada sembarang orang. Takut disalahgunakan. Doni yang biasa dipanggil Donce memandang aku dengan penuh tanda tanya. Dia menjawab dengan suara gemulai dengan gerakan tangan tak jauh berbeda. Aku selalu ingin muntah melihat adegan ini. Tapi saat ini aku tak punya pilihan.
Berbekal secarik kertas dengan potongan asal aku berjalan dengan penuh percaya diri menelusuri gang yang tak memungkinkan dua mobil untuk saling berpapasan. Sesekali memandangi kertas yang telah kumal di saku celana kerja, dan mencocokkan tulisan itu dengan sederet rumah minimalis yang tak dipungkiri adalah jenis rumah idamanku—setelah berkeluarga kelak. Sudut bibirku tersenyum mengkhayalkan kehidupan kami, aku dan Mas Angga, serta anak-anak kami empat sampai lima tahun kedepan.
Langkah demi langkah aku nikmati hingga adzan magrib terasa mengejutkan. Aku bahkan tak menyadarinya. Lingkungan perumahan ini terasa damai dan menenangkan, aku ingin segera tiba dan memasuki salah satu bangunannya.
Gemetar. Keringat dingin. Jemariku kaku menunggu pemilik rumah membukakan pintu. Baru saja suara seorang wanita menjawab salam dengan lemah lembut dan menentramkan. Dari suaranya aku bisa menebak kalau usia wanita itu pasti tak jauh beda denganku. Tak lama kemudian, suara itu muncul dengan bentuk yang nyata. Seorang wanita berjilbab, aku memprediksi umurnya awal tiga puluhan, wajahnya biasa saja, namun tatapannya teduh dan menenangkan. Dia menyapaku dengan ramah, membuatku lega karena ternyata keluarga Mas Angga tak seburuk yang aku pikirkan. Pasti ini adik yang Mas Angga sering ceritakan.
“Saya Shinta, teman kantor Pak Angga…”
Dia mempersilakanku masuk, memintaku duduk dan bertanya apa yang ingin kuminum. Aku menggeleng mengucapkan terima kasih seraya memamerkan botol air mineral yang masih penuh. Namun, dia tak menerima alasanku dan memaksa akan membawakan minuman yang dipilihnya, sambil berjanji akan memanggil Mas Angga kehadapanku. Aku tersenyum senang.
Sebenarnya aku ingin menumpang sholat magrib terlebih dahulu, namun aku merasa akan lebih nyaman menumpahkan isi kepalaku ke Mas Angga. Sehingga aku bersabar mengunggu kedatangannya di ruang tamu. Detik berganti menit, aku sudah merubah posisi duduk dari lurus, menyamping dan sesekali berdiri mengamati beberapa bingkai foto yang dipajang terpisah dan tersebar di dinding ruangan. Satu, foto sepasang wanita dan pria berumur yang pasti orang tua Mas Angga. Dua, foto Mas Angga dan adiknya. Tiga, foto Mas Angga dan… Aku merenung sesaat sebelum berani menyimpulkan bahwa dua balita mungil yang ada dipangkuan itu adalah… putra putri Mas Angga??? Aku membekap mulut. Wanita tadi adalah…
“Shin…” Aku menoleh terkejut. “Kamu datang?” Tanya Mas Angga tak kalah terkejut. “Darimana kamu ta…”
Aku terdiam. Memandanginya penasaran, hingga ia bingung dan menghentikan kalimatnya. Tanpa basa-basi aku langsung menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Siapa wanita tadi? Ada hubungan apa dia dengan anak-anak yang ada di pangkuan itu. Dan kenapa Mas Angga tak senang dengan kedatanganku. Dia hanya diam—tak mengatakan apapun. Mulutnya terkunci dan aku sedang berusaha mencarinya. Kepalanya tertunduk tak mampu menatapku. Aku pun sama—diam. Bahkan tak mampu lagi menanyakan keadaannya. Rasa sakitnya pasti tak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan sekarang.
“Istri…” Ujarnya terbata. “Dan anak-anak kami…”
Tubuhku langsung membeku. Mati rasa. Tak memerlukan waktu lama untuk dapat membebaskan air mata yang sudah kutahan semenjak melihat potret itu. Tanganku mengepal keras, membuat buku-buku jariku memutih. Kepalannya mampu melukai telapak tangan yang seolah terbakar. Namun aku tak merasakan kesakitan. Hatiku jauh lebih sakit. Mengapa selama ini ia memberikan harapan palsu yang tak mungkin menjadi kenyataan? Mas Angga menatapku kalut dan berusaha meredam tangisku, mencoba meraih salah satu tangan yang langsung kutepis kasar. Lalu menyentuh bahu yang langsung kubalas dengan tamparan keras di sebelah pipinya. Dia tak mengelak, juga tak membalas. Bagaimana mungkin dia sepicik itu? Membiarkan benih-benih ini tumbuh, memupuknya rajin, hingga menghasilkan kuncup bunga dan memetiknya tak berperasaan sebelum ia sempat mekar. Kenapa ia tak membiarkanku mencari kebebasan sendiri dan memenjarakan aku di bilik yang telah penuh? Dan tak mungkin terisi lagi. Aku menangis.
“Dia adik sahabatku… Aku tak pernah mencintainya…”
Mas Angga mengatakan itu dengan dengan santai. Seolah ikrar yang telah ia janjikan sewaktu akad tak berarti apa-apa. Cinta atau tidak dia dengan wanita itu, namun mereka telah dikaruniai sepasang putra-putri lucu yang tak mungkin diingkari keberadaannya. Tapi mengapa dia tega sekali terhadap mereka? Juga terhadapku? Ternyata aku salah menilainya. Dia tak merasa bersalah sama sekali ketika mengatakan kalimat itu, seolah dia telah melupakan keberadaan kedua buah hatinya. Seharusnya dia malu pada dirinya sendiri.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Langkah kakiku panjang dan tergesa, tak menghiraukan panggilan Mas Angga yang “seolah” meneriakkan “Malinggg!!!” begitu keras, tak mengacuhkan tatapan penasaran yang terpancar jelas di wajah para pejalan kaki yang berbaju koko dan bergamis rapi melangkah ke masjid. Mereka menatapku seolah aku orang asing yang mencurigakan. Aku sakit. Sangat sakit. Bahkan rasa sakit saat putus dengan cinta pertamaku dulu tak sebesar ini. Aku sudah menambatkan hati ke orang yang salah. Orang yang tak layak. Orang yang tak patut dicintai.
“Nunggu lama?” Tanyanya hati-hati dengan mulut tertahan. Sepertinya kondisinya tak terlalu sehat. Bibirnya mengering dan pucat. Aku menatapnya khawatir. Selalu saja dia menomorduakan kesehatannya demi aku. Menyesal telah memintanya datang. “Ayo…” Ajaknya menggandeng tanganku. Hangat merayap, mengalir, menyerap dingin yang menggerogoti telapak tangan. Kami menembus hitam, membelah angin yang dinginnya membuat sakit gigiku semakin tak terkira.
Selama perjalanan kami tak saling bertukar suara. Hanya sesekali aku menanyakan untuk memastikan keadaannya yang terlihat buruk, namun laki-laki itu selalu menggeleng dan memaksakan senyum. Miris melihat pemandangan ini. Hubungan kami sudah sampai di tahap dimana kami tak bisa disebut “teman” lagi, tapi dia selalu menolak memberikanku kesempatan untuk merawatnya atau sekedar mencemaskan kondisinya ketika keadaannya seperti sekarang. Aku tahu dia punya keluarga yang memperhatikan, tapi apa salah jika aku ingin belajar merawatnya. Menjaganya. Memperlakukannya dengan hal yang sama seperti apa yang telah dia lakukan terhadapku.
Keesokan harinya aku tak melihat Mas Angga dimanapun. Dia datang terlambat atau ada meeting dimana ya? Pikirku kalut. Beberapa teman yang kutanyai malah tertawa mengolok-olok. “Seharusnya kami yang tanya.”
Aku mengenalnya beberapa bulan lalu ketika pertama kali bergabung di perusahaan ini. Dia sangat ramah, baik dan tak ragu-ragu mengajarkanku ilmu yang telah dia dapat. Dia juga tak segan menegur ataupun memberi masukan ketika aku melakukan hal yang salah. Hampir setiap hari dia memberikanku sesuatu, entah itu sebatang cokelat, setangkai mawar, ataupun makanan yang mengundang selera. Dia juga menyeretku ke tempat wisata setiap akhir pekan, memastikanku senang dan tak murung di rumah kontrakan. Akupun tak ragu untuk memintanya mendampingiku di acara-acara pernikahan dan menggandengnya bangga meskipun tak sekalipun dia melibatkanku ketika dia pribadi yang mendapat undangan. Tapi aku sangat menyukainya… Dan—Ibu, pasti sama sukanya denganku.
Aku berusaha menghubungi ponselnya yang tak aktif. Sudah puluhan kali aku mencobanya dan tak membuahkan hasil. Hanya operator yang masih setia menjawab panggilanku. BBM yang kukirim pending. Mungkin masa berlaku paketnya sudah habis. Hiburku namun tetap tak terhibur. Mas Angga membuatku sangat khawatir. Ini adalah pertama kalinya dia menghilang tanpa kabar, membuat hariku terasa menanjak—lebih lama dibanding ketika ada dia yang selalu setia mendampingiku. Kami pasangan yang sangat serasi di kantor. Apapun akan dia lakukan untukku.
“Mas, yaampun… Kemana aja?” Cecarku ketika dia baru menghubungi tengah hari. Sudah hampir gila aku dibuatnya.
Lama dia tak menjawab. Mungkin banyak yang sedang dipikirkannya sehingga dia melamun. Namun ketika mampu bersuara, aku langsung tahu bahwa kondisinya sedah tak baik. Dia bilang sedang tak enak badan sehingga ponselnya dimatikan. Kilatan kejadian semalam menghantui perasaanku. Aku yakin kalau semalam kondisinya benar-benar buruk ketika datang ke Rumah Sakit, tapi dia memaksakannya. Ini membuat rasa bersalahku semakin menjadi. Aku langsung meminta maaf.
Aku sangat khawatir mengenai kondisinya dan ingin segera menemuinya. Tapi dia tak mengijinkanku berkunjung. “Nggak enak sama orang rumah,” ujarnya tadi ketika aku memaksakan datang. Dia bahkan tak mempercayakan alamat rumahnya padaku. Membuatku sedih.
“Mas, nggak masuk lagi?” Ini adalah hari ketiga dia tak datang ke kantor. Aku sudah tak tahan untuk melihat keadaannya. Pasti kondisinya parah. Meskipun dia mengatakan baik-baik saja, tapi aku tidak bisa percaya begitu saja. Aku memaksanya memberikan alamat rumah padaku. “Mas takut kalau aku bakalan bikin kecewa keluarga Mas?” Tanyaku heran bercampur kesal.
“Bukan…” Aku membayangkan Mas Angga menggeleng ketika mengatakan ini. “Ok, kita bertemu di kafe biasa…” Jawabnya membuat mataku terbelalak. Mengapa dia sangat ketakutan ketika aku memaksa datang? Apa keluarganya sangat pemilih mengenai calon bagi putranya? Dan aku belum memenuhi kriteria itu.
Lama aku menunggu—makin malam makin tak nyaman. Duduk sendirian di kafe dalam keadaan larut begini akan menimbulkan fitnah. Bisa saja ada om-om yang tiba-tiba datang dan menawarku. Aku berdiri dan menatap sekeliling. Pengunjung kafe mulai sepi, berbeda ketika aku datang dua jam lalu, hanya untuk memanggil pelayan saja aku harus bersabar. Sekarang, mereka mulai berbenah dan menatapku curiga. Apa aku sebegitu buruknya di hadapan mereka??? “Dimana sih kamu Mas…” Keluhku sambil mencoba menghubungi ponselnya yang lagi-lagi tidak aktif.
Akhirnya aku kembali kerumah dengan perasaan gundah. Khawatir. Apa yang terjadi padanya sekarang? Biasanya aku akan marah dan mengomel panjang lebar ketika dia terlambat datang saat kami janjian bertemu, tapi kali ini aku sangat ingin melihatnya. Aku sangat merindukannya. Rasa kesalku tak sebanding dengan rasa rindu yang aku tahan selama beberapa hari. Aku ingin sekali menjadi orang yang mendampingi Mas Angga ketika kondisinya sakit seperti sekarang. Ketika aku sakit sebulan yang lalu, aku tak tahu harus meminta tolong pada siapa… Aku tak berani menghubungi keluargaku dan mengatakan bahwa putri semata wayangnya ini masuk Rumah Sakit karena typus. Pasti mereka akan mengomeliku karena tak makan dengan baik. Padahal aku hanya kecapekan. Dan Mas Angga—dia datang tanpa aku memintanya. Menjengukku sepulang kantor dan menghabiskan malamnya dengan meringkuk di sofa sebelah tempat tidurku. Bagaimana mungkin aku akan mengabaikan pria sebaik ini? Aku tak ingin kehilangannya.
Tidak ada kompromi. Pagi-pagi sekali aku datang ke kantor dan berharap telingaku menangkap kabar baik. Tapi—nihil. Belum ada kabar apapun yang mampu membunuh cemasku akan kondisi Mas Angga yang entah seperti apa sekarang.
Dengan tergesa aku menuju ruang HRD dan menyesal kenapa aku tak terpikir untuk mendatangi tempat ini sejak Mas Angga menghilang. Apa aku sebegitu paniknya?
“Don, bisa tolong liatin alamat karyawan nggak?” Tanyaku memasang tampang memelas. Biasanya dia tidak akan memberikan alamat karyawan pada sembarang orang. Takut disalahgunakan. Doni yang biasa dipanggil Donce memandang aku dengan penuh tanda tanya. Dia menjawab dengan suara gemulai dengan gerakan tangan tak jauh berbeda. Aku selalu ingin muntah melihat adegan ini. Tapi saat ini aku tak punya pilihan.
Berbekal secarik kertas dengan potongan asal aku berjalan dengan penuh percaya diri menelusuri gang yang tak memungkinkan dua mobil untuk saling berpapasan. Sesekali memandangi kertas yang telah kumal di saku celana kerja, dan mencocokkan tulisan itu dengan sederet rumah minimalis yang tak dipungkiri adalah jenis rumah idamanku—setelah berkeluarga kelak. Sudut bibirku tersenyum mengkhayalkan kehidupan kami, aku dan Mas Angga, serta anak-anak kami empat sampai lima tahun kedepan.
Langkah demi langkah aku nikmati hingga adzan magrib terasa mengejutkan. Aku bahkan tak menyadarinya. Lingkungan perumahan ini terasa damai dan menenangkan, aku ingin segera tiba dan memasuki salah satu bangunannya.
Gemetar. Keringat dingin. Jemariku kaku menunggu pemilik rumah membukakan pintu. Baru saja suara seorang wanita menjawab salam dengan lemah lembut dan menentramkan. Dari suaranya aku bisa menebak kalau usia wanita itu pasti tak jauh beda denganku. Tak lama kemudian, suara itu muncul dengan bentuk yang nyata. Seorang wanita berjilbab, aku memprediksi umurnya awal tiga puluhan, wajahnya biasa saja, namun tatapannya teduh dan menenangkan. Dia menyapaku dengan ramah, membuatku lega karena ternyata keluarga Mas Angga tak seburuk yang aku pikirkan. Pasti ini adik yang Mas Angga sering ceritakan.
“Saya Shinta, teman kantor Pak Angga…”
Dia mempersilakanku masuk, memintaku duduk dan bertanya apa yang ingin kuminum. Aku menggeleng mengucapkan terima kasih seraya memamerkan botol air mineral yang masih penuh. Namun, dia tak menerima alasanku dan memaksa akan membawakan minuman yang dipilihnya, sambil berjanji akan memanggil Mas Angga kehadapanku. Aku tersenyum senang.
Sebenarnya aku ingin menumpang sholat magrib terlebih dahulu, namun aku merasa akan lebih nyaman menumpahkan isi kepalaku ke Mas Angga. Sehingga aku bersabar mengunggu kedatangannya di ruang tamu. Detik berganti menit, aku sudah merubah posisi duduk dari lurus, menyamping dan sesekali berdiri mengamati beberapa bingkai foto yang dipajang terpisah dan tersebar di dinding ruangan. Satu, foto sepasang wanita dan pria berumur yang pasti orang tua Mas Angga. Dua, foto Mas Angga dan adiknya. Tiga, foto Mas Angga dan… Aku merenung sesaat sebelum berani menyimpulkan bahwa dua balita mungil yang ada dipangkuan itu adalah… putra putri Mas Angga??? Aku membekap mulut. Wanita tadi adalah…
“Shin…” Aku menoleh terkejut. “Kamu datang?” Tanya Mas Angga tak kalah terkejut. “Darimana kamu ta…”
Aku terdiam. Memandanginya penasaran, hingga ia bingung dan menghentikan kalimatnya. Tanpa basa-basi aku langsung menghujaninya dengan banyak pertanyaan. Siapa wanita tadi? Ada hubungan apa dia dengan anak-anak yang ada di pangkuan itu. Dan kenapa Mas Angga tak senang dengan kedatanganku. Dia hanya diam—tak mengatakan apapun. Mulutnya terkunci dan aku sedang berusaha mencarinya. Kepalanya tertunduk tak mampu menatapku. Aku pun sama—diam. Bahkan tak mampu lagi menanyakan keadaannya. Rasa sakitnya pasti tak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan sekarang.
“Istri…” Ujarnya terbata. “Dan anak-anak kami…”
Tubuhku langsung membeku. Mati rasa. Tak memerlukan waktu lama untuk dapat membebaskan air mata yang sudah kutahan semenjak melihat potret itu. Tanganku mengepal keras, membuat buku-buku jariku memutih. Kepalannya mampu melukai telapak tangan yang seolah terbakar. Namun aku tak merasakan kesakitan. Hatiku jauh lebih sakit. Mengapa selama ini ia memberikan harapan palsu yang tak mungkin menjadi kenyataan? Mas Angga menatapku kalut dan berusaha meredam tangisku, mencoba meraih salah satu tangan yang langsung kutepis kasar. Lalu menyentuh bahu yang langsung kubalas dengan tamparan keras di sebelah pipinya. Dia tak mengelak, juga tak membalas. Bagaimana mungkin dia sepicik itu? Membiarkan benih-benih ini tumbuh, memupuknya rajin, hingga menghasilkan kuncup bunga dan memetiknya tak berperasaan sebelum ia sempat mekar. Kenapa ia tak membiarkanku mencari kebebasan sendiri dan memenjarakan aku di bilik yang telah penuh? Dan tak mungkin terisi lagi. Aku menangis.
“Dia adik sahabatku… Aku tak pernah mencintainya…”
Mas Angga mengatakan itu dengan dengan santai. Seolah ikrar yang telah ia janjikan sewaktu akad tak berarti apa-apa. Cinta atau tidak dia dengan wanita itu, namun mereka telah dikaruniai sepasang putra-putri lucu yang tak mungkin diingkari keberadaannya. Tapi mengapa dia tega sekali terhadap mereka? Juga terhadapku? Ternyata aku salah menilainya. Dia tak merasa bersalah sama sekali ketika mengatakan kalimat itu, seolah dia telah melupakan keberadaan kedua buah hatinya. Seharusnya dia malu pada dirinya sendiri.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Langkah kakiku panjang dan tergesa, tak menghiraukan panggilan Mas Angga yang “seolah” meneriakkan “Malinggg!!!” begitu keras, tak mengacuhkan tatapan penasaran yang terpancar jelas di wajah para pejalan kaki yang berbaju koko dan bergamis rapi melangkah ke masjid. Mereka menatapku seolah aku orang asing yang mencurigakan. Aku sakit. Sangat sakit. Bahkan rasa sakit saat putus dengan cinta pertamaku dulu tak sebesar ini. Aku sudah menambatkan hati ke orang yang salah. Orang yang tak layak. Orang yang tak patut dicintai.
Friday, March 28, 2014
YOU’RE MY EVERYTHING
Segerombolan orang panik dan berjalan kearah UGD. Aku menduga kalau sedang terjadi sesuatu disana. Kecelakaan—pikirku getir. Iba. Tak jauh dari tempatku, duduk pasangan muda yang saling bertukar senyum menunggu kelahiran buah hati mereka. Pasti itu anak pertama. Membuatku ikut tersenyum mengingat masa indah itu. Di sudut ruangan, ada sebuah apotek yang antriannya bisa membuat orang berpikir untuk melarikan diri dibanding menebus obat yang sebenarnya bisa saja ditebus diluar. Aku membuang muka—tak tertarik.
“Nyonya Aulia…”
Namaku dipanggil oleh seorang suster yang memegang daftar antrian. Dia tersenyum ramah kemudian mempersilakanku masuk. Aku balas tersenyum seraya mengucapkan terima kasih dan menyapa dokter kandungan yang membantu persalinan Rendra tiga tahun silam. Dokter itu masih cantik. Pasti hidupnya bahagia tanpa tekanan. Seperti kontrol bulan-bulan sebelumnya dia menanyakan kabar juga keluhan yang aku rasakan selama masa kehamilan. Tak lupa dia menanyakan keberadaan Mas Agung juga Rendra. Aku menjawab datar. “Sedang dalam perjalanan Dok. Kebetulan dinas pagi. Putra saya sedang menginap di rumah eyangnya,” ujarku berbohong. Aku tidak mungkin curhat masalah pribadi untuk mendapatkan simpatinya.
“Ibu harus makan lebih banyak. Jangan lupa minum vitamin.” Dokter menegaskan karena hasil pemeriksaannya kurang memuaskan. “Tidak boleh… harus dipaksakan…” Ujarnya setelah aku mengatakan bahwa di kehamilan yang kali ini aku sangat mual ketika mencium aroma susu. Faktor tekanan juga membuatku kurang bernafsu untuk menyantap makanan. Dimana lagi aku harus mencari pengasuh untuk Rendra?
Mas Agung datang tak lama setelah aku menebus obat di apotek yang pengantrinya sudah menyusut. Alhamdulillah... Dengan setelan rapi warna keabuan dia tersenyum dan melangkah mantap kearahku. Itulah pesonanya yang berhasil mengjungkirbalikkan hatiku lima tahun lalu saat kami pertama kali bertemu. Menyapa kemudian mengelus perutku mesra. Semua orang memandang iri. Kami tidak perduli.
“Bunda…!” Rendra berjingkrak gembira melihat kedatangan kami. Pasti dia sangat merindukan kedua orangtuanya. Sepulang kerja tadi, tak sabar ingin segera bertemu dengan Rendra, namun aku juga tak bisa mengabaikan kehamilanku yang sudah menginjak bulan ke enam. Aku sayang pada Rendra—juga janin yang sedang kukandung. Tak perlu menunggu lama hingga taxi pesananku datang. Taxi bergerak pelan membelah kemacetan kota, waktu terbuang sia-sia. Begitupun ketika sampai di Rumah Sakit, dokter terlambat ke ruang praktek. Dari informasi yang kuperoleh, dia sedang ada pasien melahirkan. Bukan suatu hal yang patut dibesar-besarkan, karena aku pernah berada di posisi pasien tersebut. Aku harus memaafkannya.
“Kakak…” Sambutku antusias dan menghambur memeluk putraku yang semakin kurus. Aku menciuminya sedih. Suamiku melakukan hal yang sama setelahnya. Hanya saja dia tidak sampai meneteskan air mata. Rendra terlihat mengantuk, sepertinya karena lelah bermain—atau jangan-jangan lelah menangisiku selama dua hari. Jarak antara rumah kami—kantorku—tempat tinggal Ibu sebenarnya tak terlalu jauh. Namun kota ini tak selengang ketika aku datang merantau tujuh tahun lalu. Semua terasa menyesakkan. Aku malas menyetir mobil dan berjuang dengan kemacetan kota dalam kondisi hamil yang sudah terbilang tua ini. Sangat melelahkan. Jadi kuputuskan untuk menitipkan Rendra dengan Ibu yang tinggal dengan saudara perempuanku. Berkali-kali aku mendapatkan pembantu, namun hanya beberapa bulan saja mereka bertahan. Beberapa orang pamit pulang dan menghilang—beberapa orang sisanya kuberhentikan karena tidak bisa membagi waktu antara mengurus rumah dan mengasuh putraku, Rendra.
Malam ini aku datang untuk menjemput Rendra, karena esok sabtu dan minggu. Aku libur. Seharusnya ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, namun aku berencana berkeliling seputar perumahan untuk mencari tempat penitipan anak. Makin sedih aku membayangkan hal ini.
Setelah seminggu di tiap akhir petang aku berkeliling, akhirnya aku memutuskan memilih salah satu tempat penitipan anak yang tidak jauh dari rumah. Hari ini adalah hari ketiga yang pasti masih sulit untuk Rendra. Dia menangis terisak, menyayat hatiku. Tidak tega aku meninggalkan dia di tempat asing ini—di tengah kumpulan orang asing yang tak ia kenal. Mas Agung yang seorang aparat kepolisian dinas malam dan baru pulang jam delapan nanti. “Aku nggak mau sekolah, Bunda…” Rengeknya membuat hatiku makin perih. Dengan sabar para pengasuh di tempat ini merayu Rendra, mengajaknya bermain hingga berhasil melupakanku. Aku mengendap-endap untuk melarikan diri.
Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta yang jam kerjanya benar-benar mengikat. Jam tujuh sampat empat sore. Tidak kurang dan tidak lebih. Ini membuat ruang gerakku sebagai ibu rumah tangga sangat terbatas. Jarang memasak—pasti. Bersih-bersih apalagi. Ketika kutinggalkan tadi rumah dalam keadaan berantakan. Kadang aku merasa tidak enak dengan Mas Agung, apa dia memilih pasangan hidup yang tepat. “Gimana Rendra? Sudah bisa menyesuaikan?” Tanya salah satu rekan kerjaku. Aku menggeleng sedih. “Hari ini dia masih rewel,” ujarku. Baru saja aku menelepon salah satu pengasuh dan dia mengatakan hal itu.
Berdasarkan referensi dari beberapa teman yang menyebutkan beberapa yayasan pembantu rumah tangga aku menghubunginya satu-persatu. Berharap akan mendapatkan satu yang cocok. Yang sesuai denganku. Yang bisa mengambil hati putraku. Tapi pemikiran ini membuatku semakin berduka, bagaimana mungkin aku rela ada orang lain yang mampu menggantikan posisiku? Dan berita itu tak sesuai harapan. Beberapa yayasan menetapkan peraturan yang membuat kepalaku hampir pecah, sisanya menetapkan tarif yang tinggi namun tidak sesuai dengan kriteria yang aku harapkan. Tuhan… Apa ini rencanamu…
Pagi ini sangat cerah. Secerah hatiku ketika bisa mempersiapkan makan pagi untuk Mas Agung dan mengantar Rendra ke penitipan anak. Ya, aku memutuskan untuk tetap mengirimnya ke tempat itu meskipun aku sedang cuti pra melahirkan. Hanya saja, aku akan menjemputnya ketika semua pekerjaan rumah sudah selesai. Kadang sebelum jam makan siang aku sudah sampai di tempat itu dan melihat keceriaan Rendra yang menyambut kedatanganku. Sesekali dia bolos, biasanya itu atas permintaannya. “Kakak senang kalau Bunda dirumah,” ujarnya terdengar pilu. “Kakak nggak mau sekolah ah…” Tambahnya membuatku iba. Kemudian mengacuhkan pekerjaan rumah dan memilih bermain dengannya. Suamiku tersenyum tak kalah cerah—seolah keberadaanku dirumah “sepanjang hari” memang yang diinginkannya. Ini membuat malamku terasa panjang—tidurku tak lelap. Aku terus memikirkan kemungkinan untuk mengundurkan diri. Dan ketika pemikiran itu semakin matang, muncul pemikiran lain yang mengurangi keyakinanku untuk berani mengambil resiko tersebut.
Beberapa minggu berlalu sejak aku cuti. Dan aku menikmati hari-hari yang semakin lama semakin menyenangkan. Sangat menyenangkan. Melihat tawa Rendra yang diiringi lesung pipit—sungguh rupawan putraku. Mewarisi bentuk wajah ayahnya. Aku tahu. Aku sadar. Bahwa mereka berdua pun sangat menikmati keberadaanku. Aku bahkan merasa bahwa mereka terlalu berlebihan memperlakukanku, seolah memanfaatkan waktuku yang tersisa dirumah, yang hanya tinggal sedikit lagi. Aku gelisah… Kutatap wajah tenang Chandra—putri cantik yang baru saja ku aqiqah. Dia terlelap. Wajahnya polos. Tanpa dosa. Tangan kecilnya kugenggam—erat. Apa aku akan menitipkannya juga ke yayasan? Aku menangis dalam hati.
“Bun…” Panggilan Mas Agung membuyarkan lamunanku. “Apa yang Bunda pikirkan?” Tanyanya sambil melangkah kearahku. Seragamnya sangat rapi—dan dia yang melakukannya sendiri. Tanpa aku. Miris membayangkan ini.
Aku menggeleng lalu membuang nafas. Menatap wajahnya yang tirus. “Yah… Kalau aku kerja lagi, anak-anak gimana ya?” Tanyaku gamang.
Mas Agung terdiam. Lalu duduk di sisi tempat tidur, sama seperti yang aku lakukan. Lama aku menunggu jawabannya. Dia hanya diam, lalu membelai pipi Chandra kemudian mencolek hidung mungil bocah itu. “Kalau menurut Bunda gimana?” Tanyanya balik. Aku mengedikkan bahu.
“Kan aku minta pendapat Ayah. Kok Ayah balik bertanya?”
Mas Agung menoleh lalu menggeser tubuh. Kedua tangannya mendarat di bahuku. Lembut. Dia selalu memperlakukanku seperti itu, seolah aku benda berharga yang mudah hancur. Dia tak pernah menuntut apapun dariku. Sekalipun. Aku sungguh beruntung memilikinya. “Bunda ingin jawaban apa?” Aku mengerutkan kening. Lalu merengut kearahnya. “Apa saja…” ujarku parau.
“Janji tidak akan marah?”
Aku menggerak-gerakkan bibir. Resah. Apa yang ada dipikirannya sekarang? Aku menatapnya. “Hanya satu orang yang bisa melakukannya. Bukan Ayah. Bukan orang lain.” Kami saling bertatapan. “Tapi Bunda…” Mas Agung tersenyum penuh arti membelai pipiku.
Mataku berkedip-kedip. Berusaha membatalkan air mata yang nyaris tumpah. Aku bahagia mendengarnya. Aku bahagia atas kepercayaannya. Haru. Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku terisak.
“Kenapa Bunda menangis?”
Dengan cepat aku memeluk Mas Agung. Memeluknya erat. Aku bisa merasakan kalau dia tersenyum. “Apa selama ini Ayah kecewa sama Bunda?” Tanyaku tak jelas karena diiringi tangis.
Mas Agung menarik tubuhku menjauh dan menuntut kejelasan atas pertanyaanku. “Bunda adalah Ibu yang baik. Sabar. Jadi tidak ada alasan bagi Ayah untuk kecewa sama Bunda. Kenapa Bunda berkata seperti itu?”
Bagaimana mungkin suami yang sebaik ini tega kusia-siakan? Surgaku adalah telapak kakinya. Aku hanya harus berbakti kepadanya. Materi memang bisa membuat hidup manusia di dunia menjadi penuh kejutan. Tapi apa itu bisa menjamin kebahagiaan? Aku baru belajar tentang ini sekarang, ketika aku bangun, dan buru-buru menyiapkan sarapan. Bukannya sibuk menyiapkan diri sendiri untuk menumpuk materi yang sebenarnya sudah cukup dari penghasilan Mas Agung.
“Iya… Sebentar Nak…”
Aku tergesa menuju teras rumah. Baru saja Rendra berteriak bahwa bekalnya tertinggal. Dalam hitungan detik aku telah berada dihadapan pria kecilku dan menyerahkan kotak roti bakar dan segelas susu hangat. Dia tidak terbiasa sarapan dirumah. Chandra tersenyum dalam dekapanku—tangan mungilnya memainkan ujung kerah. Di sudut garasi, Mas Agung sedang sibuk memanaskan mobil untuk mengantar Rendra sebelum menuju kantornya. Semalam dia libur. Sedangkan hari ini dia dinas pagi. Jam kerjanya tiap hari bergantian antara dinas pagi dan dinas malam.
Akhirnya bulan lalu, hari dimana aku harus kembali ke kantor untuk pertama kalinya. Pada hari itu juga aku datang dan membawa surat pengunduran diriku. Aku sudah memikirkannya berkali-kali dan hasilnya sama. Ini adalah jalan yang terbaik. Untukku. Suamiku. Dan anak-anakku. Aku tidak harus pontang-panting mencari pembantu. Suamiku bahagia karena aku selalu berada dirumah ketika dia berangkat dan pulang kerja. Rendra-pun senang karena dia tidak dititipkan ke yayasan lagi. Kami memasukkannya ke PAUD (Pendidikan anak usia dini). Dan Chandra—aku akan mengurus dan membesarkannya dengan tanganku sendiri. Dengan kasih sayangku yang tak terbatas. Aku tersenyum. Bahagia. Bahagia karena keputusanku yang bijak. Aku yakin setiap orang pasti punya rejekinya masing-masing. Aku tidak harus khawatir karena aku yakin bahwa keputusanku ini tidak akan membuat kami kekurangan materi. Ini adalah kebahagiaan yang sesungguhnya, yang selama ini aku belum pernah dapatkan. Aku yakin… Tuhan punya rencana yang indah…
Subscribe to:
Posts (Atom)